KEDIRI, JP Radar Kediri – Turunnya pertumbuhan ekonomi di Kota Kediri perlu mendapat atensi. Harus ada sektor pendongkrak ekonomi baru untuk menahan guncangan di industri pengolahan.
Menurut Bank Indonesia (BI) Kediri, Pemerintah Kota (Pemkot) Kediri bisa melakukan pendekatan crowd economy. Dalam bahasa Indonesia disebut ekonomi kerumunan.
Namun, sederhananya, langkah yang bisa dilakukan adalah dengan menggelar event. Apapun event tersebut.
Entah itu event budaya, olahraga, musik, atau lainnya. Baik dalam skala kecil maupun besar. BI Kediri punya penjelasan yang masuk akal terhadap hal ini.
“Crowd economy itu mungkin, kalau misalnya kita lihat, kalau secara individual mungkin kecil gitu ya (dampaknya, Red), mungkin satu orang akan spending dalam tanda kutip sepuluh ribu,” terang Deputi Kepala Perwakilan BI Kediri Deasi Surya Andarina.
Baca Juga: Cuaca Ekstrem Picu Inflasi di Kediri, Harap Produsen Pangan Lakukan Intensifikasi
Ada banyak alasan lain yang membuat pendekatan crowd economy perlu didorong Pemkot Kediri. Salah satunya adalah karakteristik daerah perkotaan.
Yakni, terbatasnya wilayah untuk pengembangan sektor ekonomi baru. Misalnya untuk sektor pertanian dan industri.
Sehingga, daerah perkotaan harus lebih kreatif untuk mencari pendongkrak ekonomi. Nah, salah satunya bisa mengembangkan industri kreatif.
Salah satu perwujudannya sendiri adalah menggelar event budaya, seni, sejarah, film, dan lainnya. Di samping itu, kegiatan seperti mice. Yakni meeting, incentives, conventions, dan Exhibitions.
Dengan begitu, akan ada banyak masyarakat dari luar kota yang datang ke Kota Kediri. Ketika itu terjadi, beberapa sektor ekonomi akan bergerak. Mulai dari makanan dan minuman, perhotelan, transportasi, dan lainnya.
“Dengan kekuatan crowd economy itu tadi, kalau dikumpulkan, misalnya ada event, ada seratus, dua ratus, tiga ratus orang yang datang dan masing-masing orang itu dalam tanda kutip belanja Rp 50 ribu aja untuk oleh-oleh, untuk makan, itu bisa mendorong pertumbuhan di Kota Kediri,” jelas perempuan yang akrab disapa Dea itu.
Menurutnya, langkah ini masih menjadi langkah paling efektif yang bisa dilakukan saat ini oleh Pemkot Kediri. Apalagi di tengah konflik Timur Tengah yang menimbulkan ketidakpastian ekonomi. Termasuk dalam dunia industri.
“Karena itu mungkin yang paling mudah gitu ya. Tidak perlu misalnya harus mendatangkan investor untuk membuka pabrik, tidak perlu membuka lahan, dan lain-lain sebagainya,” katanya.
Baca Juga: Harga Plastik 2026 Melonjak, Biaya Produksi Naik dan Inflasi Mengintai
Namun demikian, pendekatan crowd economy ini bukan berarti tidak bisa dilakukan oleh Kabupaten Kediri. Daerah yang punya nama lain Bumi Panjalu tersebut juga tetap bisa mengadopsi crowd economy untuk mendorong pertumbuhan.
Hanya saja, perbedaannya, daerah seperti Kabupaten Kediri memiliki banyak opsi lain untuk mendongkrak ekonomi dari sektor lain. Seperti dari sektor pertanian dan industri. Bisa jadi, sektor tersebut memiliki daya ungkit lebih besar dibanding mengedepankan crowd economy.
Untuk diketahui, pertumbuhan ekonomi di Kota Kediri menurun. Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Kediri mencatat produk domestik regional bruto (PDRB) pada 2025 adalah sebesar 1,74 persen. Angka ini lebih rendah dibanding tahun sebelumnya yang sebesar 3,43 persen. Sekaligus menjadi catatan pertumbuhan ekonomi paling rendah di wilayah mataraman. (em/tar)
Editor : Andhika Attar Anindita