Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Cuaca Ekstrem Picu Inflasi di Kediri, Harap Produsen Pangan Lakukan Intensifikasi

Emilia Susanti • Kamis, 30 April 2026 | 21:52 WIB
Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Kediri Deasi Surya Andarina saat memberi keterangan pers. (FOTO: Emilia/JPRK)
Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Kediri Deasi Surya Andarina saat memberi keterangan pers. (FOTO: Emilia/JPRK)

KEDIRI, JP Radar Kediri– Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Kediri mencatatkan inflasi year to year (yty) sebesar 4,03 persen pada Maret 2026.

Angka ini lebih rendah dibanding catatan bulan sebelumnya. Pada Februari, inflasi secara yoy adalah sebesar 5,22 persen.

“Memang sudah cukup tinggi angka inflasinya,” kata Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Kediri Deasi Surya Andarina.

Dia mengatakan, inflasi yang tinggi itu dipicu oleh beberapa hal. Salah satunya berkaitan dengan naiknya permintaan pada komoditas pangan pada momen Ramadan dan Lebaran.

Mulai dari beras, daging ayam, telur, dan lainnya. Sementara, di sisi lain, konflik global juga memberi tekanan tersendiri. Itu dapat dilihat dari harga emas yang cenderung naik sejak tahun lalu.

“Jadi salah satu faktor global yang turut mengerek inflasi adalah harga emas perhiasan,” jelasnya.

Nah, selanjutnya, wanita yang akrab disapa Dea itu menyebut bahwa inflasi pada April ini akan turun dari bulan sebelumnya.

Baca Juga: Imbas Konflik Geopolitik, Inflasi di Kota Kediri Tembus 4,03 Persen

Hal itu berkaitan erat dengan berakhirnya momen Lebaran. Pasalnya, permintaan akan kembali normal. Yang artinya, permintaan akan turun dibanding Maret.

“Namun kita perlu mewaspadai tekanan inflasi karena gangguan cuaca. Ada La Nina, ada juga namanya Godzilla (sebutan El Nino ekstrem, Red), ini mengenai badai kemarau dan kekeringan, itu bisa mengganggu pasokan pangan,” kata Dea.

Kendati demikian, dia meyakinkan bahwa pihaknya akan tetap berupaya untuk menjaga pasokan. Ini penting agar inflasi di Kota Kediri tetap terjaga.

Begitu pula di daerah mataraman. Karenanya, BI Kediri akan mendorong adanya kerjasama dengan antardaerah.

“Atau mulai sekarang coba untuk membudidayakan tanaman (tanaman pangan, Red) masing-masing di pekarangan,” ajaknya.

Lebih jauh, Dea menyarankan agar para petani atau peternak lebih bersiap untuk menghadapi ancaman cuaca ekstrem. Misalnya dengan melakukan intensifikasi lahan.

Pasalnya, permintaan untuk komoditas pangan saat ini tidak hanya datang dari rumah tangga ataupun hotel dan restoran saja. Melainkan juga datang dari dapur makan bergizi gratis (MBG).

Baca Juga: Harga Plastik 2026 Melonjak, Biaya Produksi Naik dan Inflasi Mengintai

“Adanya program MBG itu, pasti akan meningkatkan permintaan terhadap pasokan makanan. Yang kita tahu pasti telur, beras, buah-buahan. Nah ini harus ada antisipasi dari produsennya, petani harus siap-siap mempersiapkan stok, mempersiapkan pasokan sebelum adanya gangguan cuaca,” terang Dea.

Terlepas dari itu, BI tetap memprediksi inflasi di bulan ini akan lebih rendah dibanding Maret.

Pasalnya, permintaan akan kembali normal pasca berakhirnya momen hari besar keagamaan nasional (HBKN) pada Maret kemarin. Hanya saja, cuaca ekstrem akan menjadi tantangan tersendiri bagi inflasi. (em/tar)

 

Inflasi year on year (yoy)

Januari        : 3,3 persen

Feburari      : 5,22 persen

Maret          : 4,03 persen

Inflasi year to date (yot)

Januari        : -0,3 persen

Feburari      : 0,5 persen

Maret          : 0,91 persen

 

Inflasi month to month (mtm)

Januari        : -0,3 persen

Feburari      : 0,87 persen

Maret          : 0,41 persen

 

Editor : Andhika Attar Anindita
#ancaman inflasi kediri #inflasi kediri #cuaca ekstrem sebabkan inflasi #Inflasi Kota Kediri #ekonomi kota kediri