Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Permintaan Telur Melonjak Tajam di Kediri, Dipicu Konsumsi dan Program MBG

Diana Yunita Sari • Kamis, 30 April 2026 | 20:27 WIB
Permintaan telur ayam meningkat, dipengaruhi konsumsi dan MBG (Diana Yunita)
Permintaan telur ayam meningkat, dipengaruhi konsumsi dan MBG (Diana Yunita)

JP Radar Kediri– Permintaan telur ayam di Kabupaten Kediri melonjak tajam. Itu lantaran tingginya angka konsumsi harian masyarakat yang dibarengi dengan bergulirnya program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Kondisi ini menyebabkan stok di tingkat peternak sering kali ludes tak tersisa. Terutama di wilayah sentra seperti Kecamatan Kepung dan sekitarnya.

Helmy Aulia, salah satu peternak ayam petelur asal Kecamatan Kepung, mengakui bahwa tekanan permintaan saat ini sangat luar biasa.

Bahkan, ia kerap mengalami kekurangan stok di kandangnya sendiri akibat ramainya pesanan yang datang.

“Permintaan sangat tinggi. Stok di kandang sendiri sampai sering kurang-kurang untuk mencukupi kebutuhan pembeli,” ujar Helmy.

Baca Juga: Peternak Telur Puyuh Kediri Banjir Pesanan MBG, Sampai Ratusan kg Perhari

Saat ini, harga telur di tingkat peternak terpantau relatif terkendali meski permintaan sedang naik.

Untuk pembelian secara partai atau grosir, harga dipatok sebesar Rp 23 ribu per kilogram. Sementara untuk harga retail atau eceran berada di angka Rp 25 ribu per kilogram.

Harga ini dinilai jauh lebih stabil dibandingkan momen awal Ramadan lalu, di mana harga di tingkat kandang sempat meroket hingga menyentuh Rp 28 per kilogram.

Setiap harinya, peternakannya mampu memproduksi sekitar 5 hingga 6 kuintal telur. Mayoritas hasil produksinya diserap oleh toko-toko retail.

Selain itu, ia juga rutin memasok kebutuhan dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) sekitar 3 kuintal per minggu.

Menurut Helmy, ada perbedaan perilaku konsumen antara pasar lokal dan luar kota saat terjadi fluktuasi harga.

“Warga Kediri cenderung menurunkan grade (kualitas) telur yang dibeli saat harga naik. Sebaliknya, permintaan dari luar kota biasanya tetap stabil meminta telur dengan kualitas terbaik atau grade bagus,” imbuhnya.

Baca Juga: Program MBG di Kediri Kembali Bergulir usai Lebaran, Siswa Antusias Menyambut

Kondisi serupa dirasakan oleh Agus, peternak asal Kecamatan Pare. Ia mengaku sering kali kewalahan memenuhi pesanan yang masuk.

Untuk menyiasati kekosongan stok di kandangnya, Agus terpaksa berburu telur ke sesama peternak lain.

“Kadang sampai benar-benar kosong. Kalau sudah begitu, saya coba cari ke peternak lain, tapi sering kali di sana juga kondisinya sama (kosong),” keluh Agus.

Keterbatasan stok ini diprediksi akan terus terjadi selama serapan untuk program sosial dan konsumsi rumah tangga tetap tinggi.

Sementara kapasitas produksi di tingkat peternak masih berada dalam tren yang tetap.

Editor : Andhika Attar Anindita
#permintaan telur #Mbg #telur ayam #peternak ayam #info kediri berita kediri