KEDIRI, JP Radar Kediri- Pertanian, khususnya tanaman padi, bukanlah sektor unggulan di Kota Kediri.
Namun, setiap tahunnya, ada fenomena menarik yang terjadi di sektor ini.
Berdasar dari Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Kediri, hasil atau luas panen padi terus merosot. Grafiknya menukik tajam di tahun 2025.
Ketua BPS Kota Kediri Emil Wahyudiono menerangkan, luas panen padi di tahun lalu sebesar 0,63 ribu hektare.
Menurun drastis dari 2024 yang seluas 1,33 ribu hektare. Bila dipersentase, penurunannya mencapai 52,64 persen.
Baca Juga: Tren Produksi Padi Kota Kediri Turun Separo, Dipicu Alih Fungsi Lahan dan Penggantian Komoditas
Praktis, hal ini memengaruhi langsung terhadap produksi padi di Kota Kediri.
“Produksi padi pun juga mengalami pola yang hampir sama, mengalami penurunan,” kata Emil.
Pada 2024 silam, produksi padi di Kota Tahu tercatat sebesar 8,39 ribu ton.
Seiring menurunnya luas panen, produksi padi menjadi sebesar 3,71 ribu ton dengan persentase penurunan 55,82 persen.
Oleh karenanya juga, produksi beras ikut menyusut tajam. Bila di 2024 mampu menghailkan 4,85 ribu ton, tahun lalu hanya sebesar 2,14 ribu. Atau menurun hingga 55,85 persen.
Tentunya, sektor pertanian ini tidak menurun begitu saja. Pastinya ada beberapa sebab.
Emil menyebut, ada beberapa hal yang memengaruhi turunnya kinerja sektor pertanian.
Sebab utamanya adalah penurunan luas baku sawah selama lima tahun terakhir.
Otomatis, hal ini memberikan dampak langsung terhadap luas panen.
“Ini akibat alih fungsi lahan menjadi pemukiman, industri, infrastruktur, pendidikan, dan kegiatan non ekonomi lainnya,” jelas Emil.
Baca Juga: Jasa Persewaan Mesin Potong Padi di Kediri Laris Manis, Panen Raya Jadi Penyebab Utamanya
Di sisi lain, kondisi musim juga memberi pengaruh tersendiri. Sehingga, produksi padi memiliki pola khusus pada kurun waktu tertentu.
Oleh karenanya, BPS Kota Kediri membagi data terkait produksi padi dalam beberapa round.
Subround I pada Januari-April, subround II pada Mei-Agustus, subround II pada September-Desember.
Nah, imbas cuaca ekstrem, pola tanamnya menjadi berubah. Produksi padi turun signifikan pada subround II, sebesar 71,8 persen. Yakni dari 0,72 ribu hektar menjadi 0,25 ribu hektare.
“Adanya kemarau panjang dan hujan deras yang tidak teratur ini meningkatkan serangan hama dan penyakit tanaman,” tandasnya. (em/tar)
Editor : Andhika Attar Anindita