Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Industri Rokok Teguncang, PDRB Kota Kediri Merosot

Emilia Susanti • Rabu, 1 April 2026 | 23:11 WIB
Potret buruh pekerja lepas di Kota Kediri. Jika sesuai ketentuan, mereka juga berhak mendapatkan THR Keagamaan tahun ini.
Potret buruh pekerja lepas di Kota Kediri. 

KEDIRI, JP Radar Kediri– Pertumbuhan ekonomi di Kota Kediri menurun. Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Kediri mencatat produk domestik regional bruto (PDRB) pada 2025 adalah sebesar 1,74 persen.

Angka ini lebih rendah dibanding tahun sebelumnya yang sebesar 3,43 persen.

Menurunnya pertumbuhan ekonomi ini tak lepas dari melambatnya kinerja dari sektor industri pengolahan.

Yang mana, sektor ini memiliki distribusi besar dalam PDRB Kota Kediri. Yakni sebanyak 78,55 persen.

Baca Juga: Realisasi Pendapatan Asli Daerah Meleset, Kondisi Ekonomi Jadi Penyebabnya

Dalam hal ini, industri pengolahan ini merujuk pada PT Gudang Garam Tbk.

“Saya melihat penyebab utamanya itu adalah perlambatan atau tingginya ketergantungan pada sektor industri pengolahan, khususnya kan rokok ya, yang didominasi oleh Gudang Garam,” jelas Subagyo, pengamat ekonomi Kediri Raya.

Sepanjang 2025, BPS mencatat laju pertumbuhan di sektor ini hanya 0,05 persen. Turun dari tahun sebelumnya yang sebesar 2,94 persen.

Praktis, penurunan laju pertumbuhan di industri pengolahan memberi guncangan tersendiri bagi pertumbuhan ekonomi di Kota Tahu.

Menurutnya, ada beberapa hal yang membuat kinerja dari industri rokok ini mengalami tekanan. Salah satunya dari kenaikan cukai rokok.

Kemudian, beberapa orang juga ada yang beralih ke rokok elektrik. Hal-hal inilah yang menurut Subagyo membuat kinerja industri rokok menurun.

Dan ketika ada penurunan produksi, tidak menutup kemungkinan akan ada efisiensi.

“Sehingga terjadi efisiensi industri, lha itu kan dampaknya ada pengurangan tenaga kerja. Ini barangkali yang menyebabkan penurunan (pertumbuhan ekonomi, Red) yang signifikan itu,” terang dosen Universitas Nusantara PGRI (UNP) Kediri ini.

Lebih lanjut, Subagyo mengingatkan bahwa turunnya pertumbuhan ekonomi ini menunjukkan ada persoalan struktural.

Fakta ini menjadi sebuah alarm. Sebab, jika melihat dari data, sektor selain industri pengolahan belum mampu mengimbangi turunnya kinerja dari industri rokok.

Baca Juga: DPRD Kabupaten Kediri Bentuk Satuan Pengawas Perda Kawasan Tanpa Rokok

“Kontribusi sektor lain belum cukup kuat ya. Baik jasa, dagang, UMKM, itu masih belum berkembang optimal. Jadi masih belum mengimbangi perlambatan industri pengolahan,” tekannya.

Oleh karena itu, dia menekankan bahwa pemerintah harus bisa mengurangi ketergantungannya terhadap industri pengolahan.

Yang pertama bisa melalui diversifikasi ekonomi. Yakni dengan terus mendorong pertumbuhan di sektor lain.

Mulai dari ekonomi kreatif, jasa, perdagangan, dan lainnya. “Ini perlu dikuat,” ingat Subagyo.

Selanjutnya, dia juga berpesan agar pemerintah bisa mengoptimalkan belanja daerah.

Artinya, anggaran yang ada harus bisa diarahkan pada program-program produktif. Tentunya juga memiliki dampak nyata ke ekonomi.

“Misalnya perlu ada pelatihan yang berbasis kebutuhan pasar, inkubasi bisnis, penguatan kewirausahaan masyarakat, itu juga perlu diperhatikan,” jelasnya sembari menyebut peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) juga menjadi kunci pertumbuhan ekonomi.

Sementara dalam jangka pendek, pemerintah juga bisa menggelar event skala nasional maupun regional untuk mendongkrak pertumbuhan.

Baik itu festival budaya, kompetisi olahraga, pameran, dan sebagainya.

Baca Juga: Soal Rokok, Menkeu Purbaya “Tampar” Kemenkes: Industri Jangan Dimatikan Tanpa Solusi

“Itu kan bisa meningkatkan kunjungan masyarakat. Itu juga mengangkat citra Kediri,” tandasnya.

Terpisah, Kepala Kantor Perwakilan (KPw) Bank Indonesia Yayat Cadarajat juga memiliki pandangan serupa.

Dia mengatakan, Kota Kediri tidak bisa hanya bergantung pada konsumsi masyarakat lokal.

Tetapi juga perlu masyarakat dari luar Kota Kediri untuk mendongkrak konsumsi.

Nah, hal ini bisa diupayakan dengan menggelar event. Yang mana, event ini diharapkan bisa mendatangkan banyak masyarakat ke Kota Kediri.

Menurutnya, jika mengandalkan konsumsi lokal tidak akan bertumbuh. Kalau ingin bertumbuh harus ada tambahan resources dari luar.

Kalau di sini ada GOR, dioptimalkan misalnya, ada pertandingan voli nasional atau basket mungkin. Sehingga atlet, ofisial, atau pihak keluarga berdatangan untuk mendukung,” jelas Yayat.

Ketika masyarakat berkunjung ke suatu daerah maka dipastikan ada belanja yang dilakukan. Mulai dari penginapan, makanan dan minuman, serta konsumsi dalam bentuk lainnya.

“Itu yang harus didorong untuk mengoptimalkan semua potensi yang ada di Kota Kediri. Kalau kontinyu, entah satu bulan satu kali, atau lebih itu akan lebih baik lagi,” pesannya. (em/tar)

Editor : Andhika Attar Anindita
#gudang garam #pertumbuhan ekonomi #industri rokok #ekonomi kota kediri #PDRB Kota Kediri