KEDIRI, JP Radar Kediri- Usaha kargo di wilayah Kediri Raya dinilai memiliki potensi yang sangat besar.
Khususnya untuk komoditas tanaman dan kebutuhan industri yang memanfaatkan jalur kargo udara melalui Bandara Dhoho Kediri.
PIC DMK Cargo Kediri Elka Dwi, mengungkapkan, potensi bisnis kargo di Kediri Raya menunjukkan tren positif.
Dalam kurun waktu tiga bulan terakhir, aktivitas pengiriman kargo dari wilayah Kediri menunjukkan adanya peningkatan jumlah.
“Dalam tiga bulan ini sudah ada sekitar 10 kali pengiriman. Setiap pengiriman bisa mencapai satu ton,” ujarnya.
Menurut Elka, komoditas yang paling dominan berasal dari sektor tanaman.
Ini tidak lepas dari potensi Kediri yang selama ini dikenal sebagai salah satu sentra tanaman terbesar di Jawa Timur.
Dia mencontohkan, beberapa pengiriman melalui DMK Cargo Kediri antara anggrek lain sebanyak tiga koli dengan berat 129 kilogram tujuan Banjarmasin.
Selain itu, pada 23 Januari lalu, bibit jati seberat 30 kilogram dikirim ke Palu.
Baca Juga: LinkUMKM Jangkau 14,8 Juta Pengusaha, BRI Dorong Penguatan Usaha Berbasis Digital
Saat tahun baru, bunga hias sebanyak empat koli dengan berat total 81 kilogram juga dikirim ke Ternate.
Tak hanya tanaman, sektor industri juga mulai memanfaatkan layanan kargo.
Baru-baru ini, spare part pabrik seberat 100 kilogram dikirim ke Jakarta.
“Hampir setiap minggu selalu ada pengiriman lewat Bandara Dhoho,” jelas Elka ditemui di kantornya.
Cakupan layanan kargo Kediri Raya tidak hanya mencakup Kota dan Kabupaten Kediri, tetapi juga daerah sekitar seperti Nganjuk, Tulungagung, Jombang, hingga Trenggalek.
Wilayah karesidenan Kediri tersebut dinilai memiliki potensi kargo yang tinggi, khususnya untuk tanaman.
Baca Juga: Sokong SDM Indonesia Emas 2045, Global English Luncurkan Tiga Program Beasiswa Full
Bahkan, sentra tanaman yang terlihat besar dari wilayah Batu, Malang, disebut sebagian besar berasal dari Kediri.
“Banyak pelanggan pecahan dari Batu justru datang ke Kediri karena beli langsung di sini lebih murah,” imbuhnya.
Meski demikian, Elka mengakui bahwa pengiriman kargo dari sektor tanaman belum bersifat rutin.
Hal ini disebabkan oleh kesiapan komoditas yang bergantung pada masa tanam.
“Kadang kirim bulan ini, bulan depan belum tentu. Biasanya repeat order baru bisa dua bulan kemudian,” katanya.
Dari sisi biaya, pengiriman melalui Bandara Dhoho dinilai lebih hemat dibandingkan Bandara Juanda.
“Biaya bisa lebih murah sekitar 30 persen,” ungkap Elka.
Namun, saat ini operasional kargo udara masih harus transit di Jakarta, sehingga waktu pengiriman menjadi lebih lama dan kurang cocok untuk barang yang bersifat mendesak.
Baca Juga: Rayakan Hari Gizi Nasional, BRI Peduli Salurkan Bantuan Paket Nutrisi di Berbagai Daerah
Selain kendala rute, minimnya informasi juga menjadi tantangan.
Banyak usaha pelaku yang belum mengetahui adanya layanan kargo udara, sehingga pengiriman melalui jalur darat masih mendominasi.
Padahal, potensi kargo di wilayah ini sangat besar dan beragam.
Elka menilai, optimalisasi gerbang kargo menjadi solusi utama. Ia berharap rute langsung ke kota-kota besar seperti Jakarta, Makassar, Denpasar, dan Banjarmasin bisa segera dibuka.
Baca Juga: Rayakan Hari Gizi Nasional, BRI Peduli Salurkan Bantuan Paket Nutrisi di Berbagai Daerah
“Kalau hanya Jakarta saja seperti sekarang, kirim ke daerah lain jadi mahal karena banyak transit,” ujarnya.
Selain rute, pengaturan jadwal penerbangan juga perlu diperhatikan.
Menurut Elka, penerbangan kargo sebaiknya dilakukan pada pagi atau siang hari. “Kalau sakit, sulit bersaing dengan Surabaya,” tutupnya.
Untuk mendapatkan berita- berita terkini Jawa Pos Radar Kediri , silakan bergabung di saluran WhatsApp " Radar Kediri ". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.
Editor : rekian