Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

IHSG Cetak Rekor Tertinggi, Sinyal Optimisme Pasar dan Rotasi Sektor Mulai Terlihat

Jauhar Yohanis • Senin, 10 November 2025 | 18:27 WIB
Photo
Photo

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali menunjukkan taringnya. Pada penutupan perdagangan Jumat lalu, indeks utama Bursa Efek Indonesia menembus rekor tertinggi di level 8.354,59, menandakan pasar domestik tengah berada dalam fase kepercayaan diri yang kuat.

Kinerja impresif ini menjadi angin segar di tengah dinamika ekonomi global yang masih bergejolak. Presiden Direktur CSA Institute, Arya Santoso, menilai penguatan IHSG tidak semata-mata hasil euforia pasar, melainkan refleksi dari fundamental ekonomi Indonesia yang masih solid. “Ada pergeseran arus modal dari saham-saham berkapitalisasi besar yang dinilai overvalue ke saham-saham dengan valuasi lebih murah dan prospek bisnis menarik,” ujarnya.

Stabilitas dan Daya Tarik Domestik

Faktor pendorong utama keperkasaan IHSG, menurut Arya, berasal dari stabilitas politik dan moneter. Di saat banyak negara mulai menurunkan suku bunga, Indonesia memilih bertahan, langkah yang dinilai berhasil menahan potensi capital outflow. Kombinasi antara stabilitas politik, populasi besar, serta prospek pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan membuat pasar Indonesia tetap menarik bagi investor asing.

Rotasi Sektor: Dari Big Banks ke Energi dan Properti

Menariknya, penguatan IHSG kali ini disertai rotasi sektor. Setelah mendominasi selama beberapa tahun terakhir, saham-saham perbankan besar mulai memberi ruang bagi sektor siklikal seperti energi, properti, dan infrastruktur.
“Big banks sudah mengalami fase koreksi sejak akhir tahun lalu, dan kini giliran sektor lain memimpin,” kata Arya.

Sektor energi mencatat kenaikan signifikan lebih dari satu persen, meski harga komoditas global, khususnya batu bara, tidak menunjukkan lonjakan berarti. Penguatan tersebut banyak dipicu oleh katalis dari indeks MSCI dan pergerakan emiten besar seperti DSSA.

DSSA Jadi Magnet Baru

DSSA menjadi bintang baru setelah memenangkan lelang frekuensi 1,4 GHz untuk layanan internet berkecepatan tinggi di sejumlah wilayah. Kemenangan tersebut dianggap pasar sebagai langkah strategis yang memperkuat diversifikasi bisnis perusahaan dari energi ke teknologi digital dan infrastruktur.
“Sentimen positif ini yang membuat investor kembali agresif masuk ke saham DSSA,” jelas Arya. Namun, ia mengingatkan, bagi investor jangka pendek, momentum saat ini dapat dimanfaatkan untuk sell on strength, sementara jangka panjang masih berpotensi buy on weakness.

BBCA Tetap Primadona

Meski mengalami koreksi ringan, saham BBCA masih menjadi motor penggerak IHSG. Valuasinya memang relatif tinggi dibanding bank lain, tetapi kinerja fundamental seperti return on equity yang hampir dua kali lipat pesaing menjadikannya tetap favorit investor institusi. Arya memperkirakan saham BBCA masih memiliki ruang kenaikan hingga Rp9.000 per lembar hingga akhir tahun.

Superbank dan Ekosistem MTEK

Selain sektor energi, pasar juga menyoroti IPO Superbank yang berpotensi menghimpun dana hingga Rp5 triliun. Langkah ini dinilai menjadi katalis positif bagi MTEK, yang menguasai sekitar 31% saham bank digital tersebut. Setelah membukukan laba sekitar Rp20 miliar di semester pertama tahun ini, Superbank dinilai mulai menunjukkan arah profitabilitas yang jelas.

Sentimen Menjelang Akhir Tahun

Memasuki kuartal keempat, pasar tampaknya mulai menatap akhir tahun dengan optimisme. Arus modal asing kembali masuk, rotasi sektor membuka peluang baru, dan saham-saham unggulan mulai menunjukkan tren akumulasi.
Meski demikian, pelaku pasar diimbau tetap waspada terhadap potensi profit taking setelah reli panjang di sejumlah saham siklikal.

“Pasar kita masih punya ruang naik, tapi seleksi saham menjadi kunci,” tutup Arya Santoso.

Editor : Jauhar Yohanis
#ihsg #BBCA