Keresahan itu datang dari Lili, salah satu thrifting di Kelurahan Bandarlor, Kediri. Dia terang-terangan mengatakan rencana larangan tersebut akan sangat berpengaruh pada stok dan penjualan.
Baca Juga: BNI Dukung Ketahanan Pangan Nasional Lewat Partisipasi di Agrinex Expo 2025
"Kalau barang impor dilarang, tentunya akan memengaruhi stoknya yang kami pasok dari barang-barang brand luar negeri," ungkapnya.
Lili mengaku, pembeli cenderung mencari brand luar negeri, bukan sekadar barang bekas. Hal inilah yang membuat mereka khawatir stok yang dimilikinya sekarang ini akan cepat habis tanpa pengganti.
Baca Juga: Harga Emas Hari Ini di Angka Rp2,381, Segini Rincian Emas UBS dan Galeri24
"Barang yang lama-lama kosong dan mau ambil di mana lagi soalnya pembeli itu beli bukan karena dia barang bekas tapi lihat brandnya," jelasnya.
Menurutnya, pembeli lebih banyak membeli pakaian impor meskipun bekas karena kualitasnya yang lebih bagus dan premium dibandingkan produk lokal. Apalagi harganya lebih murah.
Kekhawatiran serupa diungkapkan oleh Ana, pemilik toko lain dari Desa Kwadungan, Kecamatan Ngasem yang biasa berjualan di platform online.
"Saya biasanya beli dalam bentuk ball dari luar negeri, saya pilih, cuci bersih, lalu jual kembali. Kalau pakaian impor sudah gak bisa masuk Indonesia ya gatau lagi nanti," jelasnya, merujuk pada kebiasaannya mengambil stok dalam jumlah besar.
Baca Juga: BNI Bangga Jadi Bagian dari Prestasi Putri Kusuma Wardani di Hylo Open 2025
Saat ini, harga baju thrifting di pasaran berkisar antara Rp 25 ribu sampai Rp 150 ribu. Tergantung kualitas dan brand yang ditawarkan. Para pelaku usaha berharap pemerintah bisa memberi solusi terkait permasalahan ini agar mereka dapat menjalankan usaha tanpa adanya kekhawatiran.
Untuk mendapatkan berita- berita terkini Jawa Pos Radar Kediri , silakan bergabung di saluran WhatsApp " Radar Kediri ". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.
Editor : rekian