Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

IHSG Cetak Rekor Enam Kali di Era Purbaya Yudhi Sadewa

Jauhar Yohanis • Kamis, 6 November 2025 | 13:13 WIB

IHSG cetak rekor 6 kali di era Purbaya Yudi Sadewa, bukti kepercayaan pasar pada kebijakan pemerintah yang pro pertumbuhan ekonomi.
IHSG cetak rekor 6 kali di era Purbaya Yudi Sadewa, bukti kepercayaan pasar pada kebijakan pemerintah yang pro pertumbuhan ekonomi.

Sinyal Kuat Kepercayaan Pasar pada Kebijakan Pro-Growth

Jakarta — Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat capaian menggembirakan di tengah dinamika ekonomi global. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil menorehkan rekor tertinggi atau all time high sebanyak enam kali sejak Purbaya Yudi Sadewa menjabat sebagai Menteri Keuangan. Capaian ini dianggap sebagai cerminan meningkatnya kepercayaan pelaku pasar terhadap arah kebijakan pemerintah yang dinilai berpihak pada pertumbuhan ekonomi.

Direktur Utama BEI, Iman Rahman, mengungkapkan fakta tersebut dalam acara Economic Outlook 2026 di Jakarta, Rabu (5/11/2025). Menurutnya, momentum penguatan IHSG tidak lepas dari konsistensi kebijakan fiskal yang pro ekspansi dan mampu menjaga stabilitas ekonomi di tengah tekanan global.

“Yang menarik, ketika Pak Purbaya diangkat menjadi Menteri Keuangan, IHSG mencatat enam kali all time high. Sementara dari Januari hingga September hanya satu kali. Ini menunjukkan pasar lebih menyukai kebijakan yang pro-growth,” ujar Iman.

Optimisme Pasar terhadap Arah Kebijakan

Iman menilai, langkah pemerintah yang mendorong ekspansi ekonomi mendapat respons positif dari pasar modal. Namun, di sisi lain, tantangan tetap ada — terutama terkait arus modal asing dan rendahnya partisipasi investor domestik institusi.

Dari sisi supply-demand, data BEI menunjukkan adanya tanda-tanda perbaikan pada aktivitas investor asing. Meskipun secara year-to-date investor asing masih mencatat net sell sebesar Rp41,8 triliun, tren mulai berbalik positif pada bulan terakhir dengan net buy Rp1,9 triliun.

“Sudah mulai ada perbaikan dari posisi sebelumnya yang net sell hingga Rp50 triliun,” kata Iman.

Selain itu, jumlah dan aset investor institusi asing juga meningkat signifikan dalam empat tahun terakhir, dari sekitar 23 ribu menjadi jauh lebih besar baik dari sisi kepemilikan maupun partisipasi di pasar.

Investor Asing Masih Percaya pada Indonesia

Iman menepis anggapan bahwa Indonesia mulai kehilangan daya tarik bagi investor global. Menurutnya, walaupun terjadi aksi jual bersih, frekuensi transaksi asing tetap tinggi — indikasi bahwa Indonesia masih menjadi destinasi investasi menarik.

“Saya agak skeptis kalau ada yang bilang Indonesia sudah tidak dilirik investor asing. Faktanya, mereka masih aktif melakukan transaksi. Memang net sell, tapi di antara itu mereka tetap buy and sell,” tegasnya.

Tantangan: Minimnya Partisipasi Investor Domestik

Meski begitu, Iman mengingatkan bahwa pasar modal nasional masih menghadapi tantangan struktural, yakni rendahnya partisipasi investor institusi domestik. Idealnya, investor domestik menjadi tulang punggung (backbone) pasar modal Indonesia agar tidak terlalu bergantung pada arus dana asing.

“Tren peningkatan investor institusi domestik memang sudah terlihat sejak 2020, tapi kontribusinya masih kecil. Ini menjadi tantangan besar kita ke depan,” ujarnya.

Momentum untuk Perkuat Fondasi Pasar Modal

Dengan tren positif IHSG dan mulai pulihnya aliran dana asing, Iman menilai inilah saat yang tepat untuk memperkuat basis investor lokal. Peningkatan kapasitas lembaga keuangan domestik, edukasi pasar, serta insentif fiskal menjadi langkah penting agar partisipasi investor dalam negeri semakin besar.

“Ke depan, kita butuh ekosistem pasar yang lebih kuat dan inklusif, agar momentum pertumbuhan ini bisa berkelanjutan,” tutup Iman. (*)

Editor : Jauhar Yohanis
#ihsg #Purbaya Yudhi Sadewa