Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Lewat ISEF 2025, BI Perkuat Ekosistem Halal dan Keuangan Syariah

Anwar Bahar Basalamah • Jumat, 10 Oktober 2025 | 14:29 WIB
ANTUSIAS BERBELANJA: Pengunjung memadati arena pameran produk fesyen dan UMKM di Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) yang digelar di JIExpo Kemayoran, Jakarta pada 8-12 Oktober 2025.
ANTUSIAS BERBELANJA: Pengunjung memadati arena pameran produk fesyen dan UMKM di Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) yang digelar di JIExpo Kemayoran, Jakarta pada 8-12 Oktober 2025.

JP Radar Kediri - Indonesia menempati posisi ketiga dalam State of Global Islamic Economy (SGIE) 2024–2025. Capaian tersebut menjadi bukti konsistensi dan kemajuan nyata Indonesia dalam pengembangan ekonomi dan keuangan syariah.

Direktur Departemen Ekonomi dan Keuangan Syariah Bank Indonesia (DEKS BI) Rifki Ismal mengatakan pencapaian tersebut sekaligus menjadi momentum untuk memperkuat kolaborasi lintas sektoral dalam mendorong kemandirian ekonomi nasional berbasis nilai-nilai syariah. Peringkat tersebut didorong oleh penguatan pada tiga aspek utama, yakni ukuran pasar, inovasi produk, dan infrastruktur pendukung.

“Dari sisi ukuran pasar, Indonesia memiliki basis permintaan domestik yang besar dengan kontribusi halal value chain (HVC) yang terus meningkat terhadap perekonomian nasional,” ujarnya disela Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) di JIExpo Kemayoran, Jakarta.

Untuk aspek inovasi produk keuangan, Indonesia dinilai progresif dalam pengembangan instrumen pasar uang dan moneter syariah seperti Sukuk Bank Indonesia (SukBI), Sukuk Valas Bank Indonesia (SUVBI), serta kebijakan insentif likuiditas makroprudensial (KLM) bagi perbankan syariah.

Dari sisi infrastruktur, lanjut Rifki, ekosistem halal juga terus diperkuat melalui percepatan sertifikasi halal, halal traceability, serta digitalisasi keuangan sosial syariah. Meski demikian, ia menilai masih ada tantangan di hulu rantai nilai.

Rifki Ismal, Direktur Departemen Ekonomi dan Keuangan Syariah Bank Indonesia "Selain jumlah penduduk muslim yang besar, Indonesia memiliki kapasitas produksi dan sumber daya alam melimpah yang memberi
Rifki Ismal, Direktur Departemen Ekonomi dan Keuangan Syariah Bank Indonesia "Selain jumlah penduduk muslim yang besar, Indonesia memiliki kapasitas produksi dan sumber daya alam melimpah yang memberi

"Daya saing eksyar Indonesia semakin kokoh, meskipun tantangan pada aspek hulu seperti peningkatan kapasitas produksi dan integrasi sistem logistik halal masih perlu terus diakselerasi agar Indonesia tidak hanya menjadi pasar, tetapi juga pemain utama global,” katanya.

Melihat tren dan kebijakan nasional, Rifki memetakan area prioritas pengembangan eksyar kedepan. Diantaranya, pembiayaan syariah, fintech syariah, ekspor produk halal, wisata ramah muslim, serta penguatan rantai nilai UMKM halal. Menurutnya, instrumen kebijakan BI seperti SukBI, SUVBI, dan KLM telah berkontribusi nyata pada peningkatan likuiditas dan pembiayaan produktif.

Rifki menambahkan, keunggulan komparatif Indonesia juga menjadi modal penting."Selain jumlah penduduk muslim yang besar, Indonesia memiliki kapasitas produksi dan sumber daya alam melimpah yang memberi peluang besar untuk memperkuat ekspor produk halal,” paparnya.

BI berkomitmen menjadikan ekonomi dan keuangan syariah sebagai sumber pertumbuhan baru yang inklusif dan berkelanjutan. “Melalui bauran kebijakan pro-growth, BI memperkuat intermediasi syariah, memperdalam pasar uang syariah, memberi insentif likuiditas makroprudensial, serta mengembangkan instrumen keuangan sosial seperti wakaf produktif dan integrasi Ziswaf digital,” ungkapnya. (als/wir)

JENIS ARABIKA: Pondok Pesantren Darul Mursyid di Sipirok, Sumatera Utara, mengembangkan unit usaha kopi yang dipasarkan dengan nama PDM Coffee.
JENIS ARABIKA: Pondok Pesantren Darul Mursyid di Sipirok, Sumatera Utara, mengembangkan unit usaha kopi yang dipasarkan dengan nama PDM Coffee.

Pesantren Mandiri Lewat Usaha Kopi

Pondok Pesantren Darul Mursyid, binaan KPw Bank Indonesia Cabang Sibolga, menunjukkan contoh kemandirian pesantren melalui pengembangan unit usaha kopi Arabika. Berawal dari lahan kosong di Sipirok, Sumatera Utara, yang berada diatas ketinggian 1.000 mdpl, kini produk kopi pesantren tersebut telah diproses sendiri, bersertifikasi halal, dan dipasarkan lewat berbagai kanal digital.

"Awalnya kami hanya membabat semak lahan yang menganggur, lalu muncul inspirasi untuk menanam kopi. Alhamdulillah sudah berbuah dan berhasil,” kata Wakil Direktur Bidang Pengembangan Usaha Pondok Pesantren Darul Mursyid, Riki Ardiansyah Putra Hasibuan.

Menurut Riki, momentum perkembangan usaha pesantren bertambah ketika rombongan Bank Indonesia mengunjungi kebun kopi mereka. Dari kunjungan itu muncul saran penting: kalau kopi diproses lebih lanjut nilainya akan naik. Pesantren kemudian mulai mengolah biji menjadi bubuk kopi sendiri. BI pun memberikan dukungan berupa peralatan pengolahan serta fasilitasi promosi.

“Bank Indonesia tidak hanya memberi dukungan fisik, tapi juga memperkenalkan produk kami melalui pameran dan event di pusat. Kami juga dibina untuk mengurus izin halal dan meningkatkan standar produksi sesuai SOP,” lanjut Riki.

Proses pengolahan kopi di pesantren sudah berjalan sekitar tujuh tahun sejak 2018, sementara aktivitas penanaman dan pengembangan kebun dimulai lebih awal, sekitar tahun 2014. Saat ini pemasaran produk dilakukan melalui media sosial seperti Instagram, marketplace, serta saluran lainnya yang dimanfaatkan pesantren untuk menjangkau konsumen lebih luas.

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.

 

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#Bank Indoensia #ekonomi dan keuangan syariah #UMKM halal #Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF)