Jalan Merbabu itu selalu megap-megap pada jam kerja dan pulang sekolah. Terutama dari arah jembatan Jongbiru, Kecamatan Gampengrejo. “Waduh sekarang macetnya sampai jembatan Jongbiru,” ujar Jatmiko, warga Nganjuk yang bekerja di Kediri.
Yang membuat pengendara waswas adalah saat berhenti di jembatan. Pengendara bermuatan berat membuat jembatan bergetar. “Rasanya seperti ada gempa,” ungkapnya. Dia berharap, jembatan Semampir bisa segera bisa difungsikan agar Jalan Merbabu tidak ada kemacetan.
Tidak hanya dikeluhkan pengendara, pedagang kaki lima yang berlapak di sepanjang Jalan Merbabu juga ikut mengeluh. Mereka menyebut, ramainya arus lalu lintas menyebabkan penurunan omzet penjualan.
Seperti yang dialami Adam, penjual batagor di Jalan Merbabu. Omzetnya mengalami penurunan setelah adanya penutupan Jembatan Semampir.
“Semenjak macet, malah omzet saya turun, jarang ada yang beli, kayaknya pada kesusahan nyebrang,” tegas Adam kepada Wartawan Jawa Pos Radar Kediri, Rabu, (25/9).
Biasanya, omzet penjualan mencapai Rp 300 ribu per hari. Namun kini, hanya Rp 100 ribu saja. “Turunnya drastis,” keluh Adam. Pria 32 tahun itu mengatakan, dagangannya sepi karena pembelinya kesulitan melakukan mobilitas.
Begitu pula dengan Luluk, pedagang pentol bakar. Omzetnya juga terjun bebas karena padatnya lalu lintas membuat pembeli enggan turun dari kendaraan.
“Mau bagaimana lagi, harus tetap buka meskipun sepi,” tutur Luluk. Ia juga harus memutar otak untuk berjualan dengan sistem COD untuk menutup kekurangan omzetnya. Serta ditujukan untuk mempermudah pelanggannya.
Untuk mendapatkan berita- berita terkini Jawa Pos Radar Kediri , silakan bergabung di saluran WhatsApp " Radar Kediri ". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.
Editor : rekian