Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Eksklusif! Liputan Khusus Maraknya Fenomena Rojali-Rohana di Mal-Mal Kediri Raya (1)

Zeyra Putri Widhianingtyas • Sabtu, 23 Agustus 2025 | 17:37 WIB

 

Perekonomian yang lesu membuat para pengunjung mal kebanyakan sekadar melihat-lihat di store dan tenant alias tidak bertransasksi.
Perekonomian yang lesu membuat para pengunjung mal kebanyakan sekadar melihat-lihat di store dan tenant alias tidak bertransasksi.

Lihat-Lihat, Coba Tester, Kabur saat Tahu Harga

 

Mereka kebanyakan datang berombongan. Mencoba-coba tester tapi tak membeli. Kalaupun transaksi, mencari barang yang paling murah.

Serombongan orang berjalan di selasar salah satu pusat perbelanjaan besar di Kota Kediri, Kediri Town Square (Ketos). Wajah dan posturnya menjelaskan mereka masih berusia remaja. Saling bersenda gurau. Sesekali melihat barang-barang yang terpajang di etalase.

Di salah satu konter sepatu ternama, rombongan itu berhenti. Yang dituju adalah rak yang berisi deretan sepatu merek terkenal. Harga-harga sepatu itu relatif mahal. Berkisar satu juta rupiah ke atas.

Namun, bukannya menjumput sepatu contoh untuk dicoba, sebagian dari mereka justru mengarah ke kaca yang tersedia. Berikutnya, berkaca di cermin dengan aneka pose. Kemudian menjepretkan kamarea handphone di diri mereka yang ada di kaca. Berswafoto!

Apakah setelah itu mereka membeli? “Mereka mampir tapi gak beli. Cuma numpang mirror selfie aja,” ucap Jun. Pria 25 tahun ini adalah supervisor NewBalance Store yang ada di pusat perbelanjaan di Jalan Hasanuddin Kota Kediri tersebut.

Rombongan seperti itu jamak terlihat di banyak pusat pertokoan, tak terkecuali di Kediri. Biasa disebut Rojali, akronim dari rombongan jarang beli. Ada juga yang dikenal sebagai Rohana, kependekan dari rombongan hanya nanya.

Dari penyebutan itu saja sudah jelas seperti apa rombongan-rombongan tersebut. Yaitu pengunjung mal yang jarang, atau bahkan tidak pernah melakukan transaksi di akhir kunjungannya.

Mendeteksinya relatif mudah. Apalagi bagi para pekerja mal. Rohana dan Rojali seringnya hanya berkeliling mal. Berjalan-jalan, melihat-lihat, berfoto, atau menikmati fasilitas mal tanpa melakukan transaksi pembelian.

Memang, sesekali mereka bertanya pada penjaga stan. Namun, ketika diberi tahu harganya langsung pilih meninggalkan tempat. Bergeser ke lokasi lain.

Kehadiran ‘pasangan’ Rojali-Rohana tentu saja kurang menggembirakan bagi pemilik stan. Sebab, meskipun traffic pengunjungnya tinggi tapi omzet mereka tetap saja rendah.

“Pengaruh besar ke penjualan,” lanjut Jun mengomentari fenomena itu.

Tak hanya di toko sepatu, Rojali-Rohana juga sering berjubel di stan-stan parfum. Di sini, mereka tak hanya ber-mirror selfie melainkan juga mencoba aneka tester yang disediakan.

“Sering banget datang rombongan satu sirkel gitu. Cuman nyium-nyium parfum tapi gak beli,” keluh sales promotion girl parfum Heavent Scent di Kediri Mall bernama Madu.

Menurut gadis 23 tahun ini, motif para Rojali dan Rohana itu juga sama. Datang bergerombol, kemudian berhenti di store. Bertanya tentang produk-produk tertentu dan mencoba tester yang tersedia. Namun setelah tahu harganya mereka langsung pergi.

“Sampai semprotin parfum juga. Pas nanya harga udah dikasih tau malah kaburm” terangnya.

Menurut Madu, rombongan itu didominasi remaja dan ibu muda. Rentang usianya kisaran 20 hingga 30 tahun.

Dalam sekali shift, sales parfum ini menjumpai hampir puluhan Rojali dan Rohana. Situasi yang baginya sangat mengecewakan. Sebab, dia telah memberikan pelayanan terbaik. Memberi penjelasan secara detil. Tapi, ujung-ujungnya, mereka tak mengakhiri dengan transaksi.

Etty, sales produk kecantikan Guardian pun mengatakan hal serupa. Dia mengaku banyak kedatangan pengunjung di tokonya. Tapi hanya sibuk dengan gawai di tangannya. Tanpa ada hasrat untuk melakukan transaksi.

“Sepertinya sih membandingkan harga produk dengan di e-commerce,” duganya.

Etty mengatakan hal itu karena dia mengamati tingkah laku para Rojali dan Rohana. Sebab, terlihat sekali mereka melakukan pengamatan dan riset produk yang mendalam.

“Lama banget di store tapi keluar store gak beli,” tandasnya.

Ironisnya, yang mengalami seperti itu tak hanya produk merek-merek ternama. Di tenant-tenant milik pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) pun terjadi hal serupa. Setelah melihat-lihat mereka kemudian bertanya produk yang jelas-jelas tidak dijual di tempat itu.

“Biasanya mereka nanyaik barang yang tidak dijual, biar bisa kabur,” gerutu Rifa, penjaga stan aksesoris di Kediri Mall.

Pihak pengelola mal mengakui sudah mengetahui perihal fenomena tersebut. Mereka mengaku turut memikirkan upaya agar mengubah perilaku Rojali dan Rohana menjadi rombongan membeli.

“Kami aware dengan masalah ini. Ikut pula memikirkan solusinya,” aku Ryan Novanda, pelaksana event dan promosi di Kediri Mall.

Editor : Mahfud
#rojali #sepi pembeli #mal #Rohana