Tantan, penjual bendera yang buka lapak di Jalan Erlangga, Desa Sukorejo, Kecamatan Ngasem mengatakan, jika bendera yang paling banyak dicari adalah berukuran sedang. Yang harganya Rp 25 ribu. Jika dibuat rata-rata, dalam dua minggu berjualan Tatan hanya mampu meraup uang Rp 500 ribu.
Jika dirata-rata, setiap hari hanya mampu mendapatkan uang Rp 35 ribu. Sebagai pedagang bendera musiman, Tatan mengaku penjualan benderanya turun jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya.
“Dari tahun ke tahun terus turun. Kadang sehari gak laku sama sekali,” keluhnya saat ditemui di lapak jualannya pada Senin (4/8).
Menurunnya minat masyarakat untuk membeli bendera dan pernak-pernik kemerdekaan secara langsung di lapak jalanan disebabkan karena dua hal. Yakni kemudahan belanja daring dan perubahan tren perayaan kemerdekaan.
“Sekarang orang lebih suka beli online. Selain itu, hiasan kemerdekaan sekarang bukan cuma bendera dan umbul-umbul tapi juga lampu LED, mural, dan lainnya,” jelasnya.
Keluhan serupa juga diungkapkan Adik, 40, seorang pedagang bendera yang mangkal di Jalan Pahlawan Kusuma Bangsa, Kota Kediri. Ia mengatakan bahwa persaingan dengan toko online cukup berat.
“Kalah saing sama online. Orang sekarang maunya yang praktis, tinggal pesan dari rumah,” ujarnya.
Untuk diketahui, ukuran standar merah putih ini berbeda-beda. Harga rata-rata berkisar Rp 25 ribu. Sementara bendera berukuran besar atau dengan bahan premium bisa mencapai Rp 250 ribu– Rp 300 ribu. Adapun umbul-umbul dijual dengan harga Rp 40 ribu – Rp 50 ribu.
“Yang paling laku tetap bendera merah putih ukuran standar. Tapi itu pun gak seramai dulu,” ucap Adik.
Untuk mendapatkan berita- berita terkini Jawa Pos Radar Kediri , silakan bergabung di saluran WhatsApp " Radar Kediri ". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.
Editor : rekian