Salah satu yang merasakan itu adalah Koyak, 39, karyawan UMKM Dimsum Mentai di Kecamatan Gampengrejo. “Di sini beli elpiji gak boleh sembarangan, kalau tidak punya langganan ya gak bisa dapat tabung. Kita harus punya langganan toko,” akunya.
Selain langka, pelaku UMKM seperti dirinya hanya boleh membeli maksimal 3 tabung gas. Agar usahanya tidak terganggu, dia harus mencari tabung gas ke desa tetangga. Serta membatasi produksi harian.
Keadaan serupa juga dialami Riko, 25, wirausahawan muda asal Papar. Riko mengaku, pernah kekurangan LPG minggu lalu. Itu membuatnya harus berburu tabung hingga jauh ke desa tetangga bahkan ke luar kecamatan. Pedagang nasi padang itu mengatakan, langkanya elpiji menyebabkan produksinya terlambat.
Dia menambahkan, toko elpiji langganannya punya banyak tumpukan gas elpiji kosong yang menginap berhari-hari. Tabung tersebut tidak kunjung di-restock oleh agen. Saat didistribusi, dia harus berebut dengan pembeli lain. Dan langsung ludes dalam hitungan jam.
Terpisah Any, 30, pemilik toko kelontong di Jong Biru membenarkan terjadinya kelangkaan. “Saya jualnya udah di atas harga eceran tertinggi. Jadi Rp. 20.500 per tabungnya. Pembelinya juga laris banget,” akunya.
Fenomena kelangkaan elpiji memang memprihatinkan. Sejauh ini, kelangkaan tabung gas tidak memengaruhi harga produk yang dijual pelaku usaha makanan. Pedagang tidak akan menaikkan harga produknya meskipun harus berusaha lebih keras menanggulangi masalah tersebut.
Dengan demikian, mereka berharap masalah ini segera teratasi dengan baik oleh pemerintah. Tidak bisa dipungkiri, elpiji adalah komoditas yang krusial sebagai penyambung hidup masyarakat.
Untuk mendapatkan berita- berita terkini Jawa Pos Radar Kediri , silakan bergabung di saluran WhatsApp " Radar Kediri ". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.
Editor : rekian