JP Radar Kediri – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali melemah tajam di awal pekan, Senin (2/6).
Koreksi ini salah satunya dipicu oleh aksi jual yang masif terhadap saham-saham bank jumbo Indonesia. Tekanan dari investor asing turut memperparah kondisi bursa yang sejak pagi memang sudah bergerak dalam zona merah.
Saham-saham perbankan papan atas seperti PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menjadi penyumbang utama pelemahan indeks.
Saham BBRI bahkan turun drastis hingga 5,2 persen ke level Rp3.620 per saham, penurunan harian terdalam dalam beberapa bulan terakhir.
Saham Bank Mandiri tak kalah lesu, ambles 4,27 persen, sedangkan BBCA ikut terkoreksi 2,85 perikut
Penurunan ini menjadi pukulan bagi IHSG yang sejak awal tahun masih berusaha bertahan di level psikologis 7.000 poin.
Analis pasar menyebut, pelemahan saham bank besar ini disebabkan kombinasi berbagai faktor.
Mulai dari sentimen negatif global, tren suku bunga tinggi yang berkepanjangan, hingga kekhawatiran likuiditas ketat yang bisa membebani kinerja bank ke depan.
“Pasar melihat risiko bahwa margin bunga bersih (NIM) perbankan bisa tertekan di tengah kenaikan cost of fund dan perlambatan penyaluran kredit,” ungkap seorang analis dari perusahaan sekuritas papan atas.
Tekanan makin kuat setelah investor asing melakukan net sell besar-besaran di saham sektor keuangan, termasuk bank.
Total nilai jual bersih asing pada perdagangan Senin pagi mencapai ratusan miliar rupiah, membuat para investor domestik ikut panik dan melepas saham mereka.
Baca Juga: Kreatif! Perempuan Asal Desa Toyoresmi Ngasem Kediri Ini Bikin Bantal Karakter secara Otodidak
Meski begitu, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memastikan bahwa kondisi fundamental sektor perbankan nasional masih tergolong kuat dan stabil.
Rasio kecukupan modal (CAR) dan tingkat pengembalian aset (ROA) bank-bank besar tetap terjaga.
OJK juga meminta pelaku industri untuk meningkatkan transparansi dan menjaga komunikasi yang baik dengan investor.
“Kinerja bank memang tengah diuji, tapi bukan berarti rapuh. Ini lebih kepada sentimen jangka pendek,” ujar juru bicara OJK dalam keterangan resmi.
Di sisi lain, para investor ritel dihimbau agar tidak ikut-ikutan panik.
Analis menyarankan untuk lebih fokus pada investasi jangka panjang dan memperhatikan fundamental emiten, bukan hanya pergerakan harga sesaat.
Untuk investor lokal yang mulai aktif dalam instrumen saham, momen seperti ini bisa jadi peluang untuk masuk ke saham-saham unggulan dengan valuasi lebih murah.
Namun tentu, dengan pertimbangan dan manajemen risiko yang matang.
IHSG sendiri diperkirakan masih akan bergerak volatil dalam beberapa hari ke depan, menunggu kejelasan arah kebijakan bank sentral AS (The Fed) dan data-data ekonomi global yang berpotensi memengaruhi sentimen pasar.
Penulis: Joenaidi Zidane, Mahasiswa Magang Politeknik Negeri Madiun (PNM)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Ilmidza Amalia Nadzira