Sebagai kawasan industri, Kampung Tenun Ikat Bandarkidul memang sudah berjalan sejak puluhan tahun silam.
Namun, sebagai salah satu daya tarik wisata, agaknya, jalan kampung yang berada di Kelurahan Bandarkidul, Kecamatan Mojoroto itu masih panjang.
Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disperdagin) Kota Kediri Wahyu Kusuma Wardani melalui Kepala Bidang Perindustrian Lilin Nuryani mengatakan, selama ini Pemerintah Kota Kediri sudah melakukan pendampingan terhadap sentra industri unggulan Kota Kediri itu.
Utamanya dari sisi promosi. Namun, disinggung soal kawasan itu yang belum bisa menjadi daya tarik wisata, dia menengarai karena sektor wisata yang belum terkoneksi.
“Yang lain misalnya ada travel wisata, kan pasti dimampirkan ke tempat seperti ini. Di kita kan belum. Paling yang ke sana hanya yang sudah tahu. Tapi kalau yang sampai kerja sama dengan travel wisata sepertinya kok belum ada,” ungkapnya.
Menurut Lilin, kawasan industri itu memang sudah ada sejak berpuluh-puluh tahun lalu.
Bahkan sejak masa sebelum kemerdekaan Indonesia jika ditilik dari literatur terkait tenun Kediri.
Namun demikian, kawasan itu baru ditetapkan sebagai sentra industri secara resmi oleh pemerintah pada 2022 lalu.
“Mulai dibangkitkan lagi kan waktu ada aturan ASN (aparatur sipil negara, Red) dan lembaga-lembaga wajib pakai baju tenun setiap hari Kamis,” ujarnya sembari menyebut, aturan serupa juga diterapkan Pemerintah Provinsi Jawa Timur untuk dilaksanakan di satu hari setiap bulannya.
Selain itu, bentuk intervensi pemerintah juga berupa pendampingan industry.
Salah satunya pendampingan merek dan pencatatan kekayaan intelektual.
Baca Juga: Siapa Walid yang Ramai Disebut di TikTok? Ternyata Ini Sosoknya
Menurut Lilin, selama ini tidak ada pencatatan motif tertentu yang diakui sebagai milik Kota Kediri saja.
Melainkan, pencatatan kekayaan intelektual dilakukan terhadap kawasan tersebut sebagai kekayaan intelektual komunal.
Dari situ, Tenun Ikat Kediri telah diakui sebagai kekayaan intelektual komunal yang berlokasi di Kota Kediri.
“Kami hanya mencatat ada 10 motif dasar yang sering dipakai. Dan itu bisa dimodifikasi sedemikian rupa oleh pengrajin,” tandasnya.
Hingga saat ini, pemkot telah mengkurasi 10 motif dasar Tenun Ikat Kediri.
Yang lahir dari hasil kreasi penenun yang terinspirasi dari alam sekitarnya.
Motif dasar itu antara lain Ceplok dengan ciri khas motif bunga.
Kemudian Lung yang merupakan motif tumbuhan menjalar.
Hingga motif Tirto Tirjo yang terinspirasi dari riak air Sungai Brantas.
“Promosi kita cukup banyak. Salah satunya kita selalu ikutkan di pameran seperti forum dekranasda (dewan kerajinan nasional daerah, Red) tiap tahun,” sambung Lilin.
Diakui Lilin, geliat-geliat industri seperti tenun Bandarkidul ini memang membutuhkan dukungan dari pemerintah.
Selain melalui promosi dan event, sayembara desain atau motif juga pernah dilakukan.
Upaya seperti itu menurutnya bisa membantu menambah referensi pengrajin tenun dalam berinovasi mengkreasikan produknya.
“Di tahun 2022 lalu hasilnya ada sebelas desain yang kemudian diserahkan ke pengrajin. Bisa digunakan atau dimodifikasikan sesuai kemauannya,” pungkasnya.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di saluran WhatsApp "Radar Kediri". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel
Editor : Ilmidza Amalia Nadzira