Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Serapan Gabah Bulog Cabang Kediri di Bulan Maret Ini Masih Minim

Ayu Ismawati • Senin, 10 Maret 2025 | 17:34 WIB
Petani di Kelurahan Semampir, Kota Kediri memanen padi menggunakan mesin combine harvester. Awal Maret ini harga gabah di tingkat petani jauh lebih tinggi dibanding harga pembelian pemerintah (HPP).
Petani di Kelurahan Semampir, Kota Kediri memanen padi menggunakan mesin combine harvester. Awal Maret ini harga gabah di tingkat petani jauh lebih tinggi dibanding harga pembelian pemerintah (HPP).

KEDIRI, JP Radar Kediri- Perilaku para petani yang lebih suka menjual panenan mereka ke tengkulak dibanding ke Badan Urusan Logistik (Bulog) yang merupakan Lembaga resmi pemerintah, membuat serapan gabah hingga Maret ini masih minim.

Dengan target puluhan ribu ton setahun, baru ada ratusan ton saja yang masuk setiap harinya.

Data yang dihimpun koran ini menyebutkan, Perum Bulog Cabang Kediri menargetkan untuk menyerap 50.500 ton gabah tahun ini.

Hingga awal Maret ini, rata-rata jumlah gabah yang terserap per harinya sekitar 300 ton.

Untuk diketahui, hingga pertengahan Februari lalu jumlah gabah yang terserap Perum Bulog Kediri baru sebesar 1.502 ton. Sedangkan beras mencapai 3.604 ton.  

Belum maksimalnya penyerapan gabah dan beras bulog itu ditengarai karena perilaku petani yang lebih suka menjual beras kepada pemborong atau tengkulak.

Alasannya, lebih praktis dan petani tidak harus keluar biaya lagi.

Apalagi, harga gabah di pasaran awal Maret ini masih lebih mahal dari harga pembelian pemerintah (HPP) dari bulog.

Yakni, harga di pasar bisa Rp 7.000-7.500 per kilogram untuk gabah kering kualitas bagus. Sedangkan HPP Bulog hanya Rp 6.500 per kg.

Sementara itu, meski serapan gabah dari petani belum maksimal, Kepala Kancab Bulog Kediri Imam Mahdi mengklaim serapan hingga 300 ton per hari itu masih tergolong bagus.

“Serapan Kancab Kediri masih cukup tinggi. Sekitar 300-an ton per hari,” akunya.

Meski banyak petani yang menjual beras ke tengkulak, Imam optimistis bulog tetap bisa memenuhi target penyerapan gabah.

Apalagi, tahun ini mereka juga diberi kewenangan menyerap beras dari petani secara langsung.

Seperti sebelumnya, Imam menyebut perilaku petani yang menjual gabah ke tengkulak itu sebagai hal wajar. Sebab, mereka bisa mendapat harga yang lebih tinggi dari HPP bulog.

“Kalau harga GKP dibeli di atas Rp 6.500 per kilogram, tentunya petani akan memilih harga tertinggi,” paparnya.

Meski harus ‘bersaing’ dengan para tengkulak, Imam memastikan bulog akan tetap memaksimalkan penyerapan gabah kering dari petani.

“Kami telah membuat tim jemput gabah bekerja sama dengan kodim melalui babinsa dan dinas pertanian melalui PPL (penyuluh pertanian lapangan, Red),” urainya.

Dari situ, mereka akan melakukan sosialisasi ke kelompok tani (poktan) dan gabungan kelompok tani (gapoktan). Termasuk membuat link pemantau panen serta mendirikan posko bersama.

Terpisah, Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Kediri Agus Fatoni Tohari mengatakan, saat ini tengkulak rata-rata membeli gabah kering petani dengan harga sedikit di atas harga pembelian pemerintah.

Yakni, seharga Rp 6.700 per kilogram. “Kalau hari ini di Kota Kediri kebanyakan panen dikonsumsi sendiri, dan sebagian dijual ke bulog,” ujarnya.

Meski demikian, menurutnya tidak sedikit petani yang menjual ke tengkulak dengan sistem tebas.

Dengan sistem itu, dimungkinkan harga akhirnya bisa di bawah HPP bulog. “Kalau petani jual sistem tebas di tengkulak, ketemunya bisa-bisa di bawah Rp 6.500 GKP-nya,” tandasnya.

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di saluran  WhatsApp "Radar Kediri". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.  

 

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#radar kediri #petani #Ratusan Ton Gabah #jawapos #Gabah Bulog Cabang Kediri #gabah