KEDIRI, JP Radar Kediri– Pedagang kaki lima (PKL) terus tumbuh di kawasan Simpang Lima Gumul (SLG) Kediri. Keberadaan mereka seperti jamur di musim hujan. Mulai pagi hingga malam hari selalu ramai PKL.
Jika pagi ramai lapak jual jajan untuk sarapan, siang banyak yang menjajakan minuman segar dan jajan yang lagi tren. Sedangkan saat malam, dipenuhi oleh angkringan.
Ramainya PKL di kawasan SLG itu menjadi bukti jika ekonomi di tempat itu tumbuh. Karena ramainya pedagang tersebut, Pemkab Kediri berinisiatif untuk merelokasi di satu tempat dengan harapan bisa menjadi sentra kuliner di SLG.
Upaya itu agaknya belum berjalan sesuai keinginan. Bangunan yang sudah disediakan Pemkab Kediri di sebelah Utara Taman Hijau SLG yang disiapkan untuk PKL itu tak kunjung ditempati. Bangunan itu disiapkan untuk sentra PKL di SLG.
Dibangun sejak 2021 lalu dan selesai 2023, sentra PKL itu belum juga difungsikan. Bahkan tulisan di depan gerbangnya sudah banyak yang copot dan rusak. Padahal, tempat tersebut disiapkan untuk 400 pedagang. Jumlah tersebut sesuai dengan jumlah lapak yang di sana.
Hingga minggu awal Februari lau, pedagang di sana enggan menempati kawasan tersebut. Akibatnya banynan menjadi mangkrak. Dan ditumbuhi rumput liar.
Baca Juga: Di Tengah Dinamika Ekonomi Global, Himbara Cetak Kinerja Solid dengan Tata Kelola yang Baik
Uni, 45, penjual es di sana mengatakan, lapak untuk pedagang di SLG telah mengalami perbaikan sekitar 2 sampai 3 kali. Bahkan, sudah direncanakan untuk ditempati pada tahun 2024. Tetapi rencana tersebut gagal. “Ya wacana saja dari dulu,” jelas Murni.
Dia menilai, pembangunan tersebut tidak memperhatikan kepentingan pedagang. Lokasi yang disiapkan tidak sebanding dengan ukuran gerobak atau rombong yang dimiliki pedagang. Membuat pedagang enggan untuk menempatinya.
“Tempatnya terlalu sempit. Bahkan gerobak es saya tidak bisa masuk. Kalau untuk ukuran kios mungkin sekitar 1,5 x 2 meter,” dalih perempuan asal Desa Paron, Kecamatan Ngasem itu.
Baca Juga: Simak Keterangan BRI soal Isu Penarikan Dana dari Bank-bank BUMN terkat BPI Danantara
Hal itulah yang membuat dia dan teman-temannya enggan menempati lapak tersebut.
Pantauan koran ini, selain bangunan lapak untuk PKL, lokasi juga dilengkapi dengan fasilitas umum seperti toilet. Lebih lanjut terdapat pusat jajanan serba ada (pujasera), tempat perbelanjaan, tempat bermain sampai taman untuk anak-anak.
Meski semua fasilitasnya sudah dilengkapi, Oni, 48, penjual es tidak setuju jika harus berpindah ke area kawasan PKL SLG. “Saya tidak mau pindah. Belum tentu pelanggan tahu lokasi jualan yang baru,” ucapnya.
Baca Juga: Layani 35,9 Juta Pengusaha UMKM, Holding Ultra Mikro BRI Salurkan Kredit Rp626,6 Triliun
Bukan tanpa alasan, dia mengatakan pendapatan yang diperolehnya saat ini sangat menurun dibandingkan sebelumnya. Jika sedang ramai pendapatan setiap hari mencapai angka Rp 200 ribu. Sekarang tinggal Rp 60 ribu hingga Rp 70 ribu. Dia khawatir jika dipindah, pendapatannya semakin menurun.
Untuk diketahui, para PKL yang akan menempati lokasi ini diutamakan untuk PKL yang berasal dari Kabupaten Kediri. Sedangkan PKL yang berasal dari Kota Kediri maupun wilayah lain bisa menempati jika masih terdapat sisa kiosnya.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : rekian