KEDIRI, JP Radar Kediri- Pemkab Kediri menaikkan target pendapatan asli daerah (PAD) tahun ini. Kenaikan itu dikhususkan untuk Pasar Wates. Tidak tanggung-tanggung, lonjakan PAD-nya lebih dari 100 persen.
Pendapatan yang awalnya Rp 325 juta, kini di 2025 naik menjadi Rp 700 juta. Meningkatnya PAD tersebut disampaikan Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disdagin) Kabupaten Kediri Tutik Purwaningsih.
Meningkatnya target PAD itu bukan tanpa sebab. Itu dikarenakan pada 2024 lalu capaian PAD yang jauh melampaui target. Yakni hampir Rp 600 juta. “Target awal Rp 325 juta. Di akhir Desember 2024, ternyata PAD yang masuk hampir Rp 600 juta,” jelas Tutik.
Baca Juga: Disdag dan Satpol PP Kabupaten Kediri Angkut Barang Pedagang yang Membandel di Pasar Wates
PAD tersebut diperoleh dari retribusi parkir pengunjung, retribusi pedagang yang buka lapak dan kios. Juga dari retribusi sampah dan sebagainya.
Menurut Tutik, capaian PAD yang tinggi ini disebabkan karena tata kelola pasar yang baru di Pasar Wates. Banyaknya fasilitas yang diberikan, seperti CCTV untuk memperketat penjagaan lapak pedagang, lokasi yang bersih, dan sebagainya membuat para pedagang jadi rajin untuk memanfaatkan lapaknya. Sehingga retribusi yang dibayarkan juga rutin dilakukan.
Selain itu, adanya konsep yang modern, tradisional, dan bernuansa budaya Jawa juga menjadi daya tarik masyarakat untuk mau datang ke pasar. Sehingga pengunjung yang menjadi sumber retribusi parkir juga bisa meningkat.
Baca Juga: Sayur Lobak di Pasar Setonobetek Menghilang saat Momen Imlek
“Artinya ada kenaikan yang signifikan dengan tata kelola baru. Mulai dari fasilitas maupun konsep pasar. Ada trotoar yang berkonsep seperti Malioboro juga jadi salah satu pemikat,” jelas Tutik sembari menyebut penerapan e-parking juga meminimalkan kebocoran retribusi parkir.
Terpisah, Pengamat Ekonomi Subagyo berpendapat, revitalisasi Pasar Wates menjadi pasar modern yang berkonsep budaya dan wisata adalah langkah yang tepat dan cerdas.
“Pasar tradisional di wilayah desa atau kecamatan biasanya hanya buka pagi sampai siang hari. tetapi dengan bertransformasi menjadi pasar modern dengan konsep budaya dan wisata, memungkinkan bisa dimanfaatkan selama 24 jam apalagi didukung degan tampilan wajah pasar wates yang memukau di malam hari, bisa menjadi daya tarik wisata kuliner di malam hari,” jelas pria yang juga dosen di Universitas Nusantara PGRI (UNP) itu.
Baca Juga: Banyak Pasar Tradisional di Kediri yang Hidup Segan Mati pun Enggan
Menurutnya, ada beberapa poin yang perlu dilakukan agar pasar itu tetap memiliki daya tarik berkelanjutan. Yakni sebagai pasar tradisional harus tetap menjaga ciri khasnya. “Karakternya adalah adanya tawar-menawar,” terangnya.
Berikutnya, perlu dilakukan peningkatan kapasitas pedagang, penataan barang, pelayanan dan beradaptasi dengan perkembangan ekonomi digital. Manajemen pasar dan manajemen pariwisata harus dipahami oleh pengelola pasar.
“Kebersihan dan keamanan pasar, kenyamanan pengunjung harus tetap dipertahankan. Selain itu juga harus terus berinovasi,” tegasnya.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di saluran WhatsApp "Radar Kediri". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.
Editor : rekian