KEDIRI, JP Radar Kediri- Kenaikan harga elpiji 3 kg dikeluhkan pedagang kaki lima (PKL). Naiknya harga eceran tertinggi elpiji subsidi itu memaksa para pedagang menyesuaikan harga. Mereka harus menaikkan harga jualannya agar tetap cuan.
Seperti yang dirasakan Imam Gozali, 51, penjual bakpao di Kweden, Desa Karangrejo, Kecamatan Ngasem. Dia mengaku harus menaikan harga bakpao dari Rp 3,5 ribu menjadi Rp 5 ribu. “Modalnya (produksi, Red) naik jadi harga bakpao juga naik,” akunya.
Walau harga bakpao yang dijualnya naik, dia bersyukur tidak memengaruhi jumlah peminatnya. “Alhamdulillah masih sama seperti sebelumnya,” ungkapnya. Dia menduga pelanggannya tidak keberatan kenaikan harga Rp 500 karena memahami kondisi pasar saat ini.
Bukan hanya pedagang jajan pasar yang terdampak, pengecer elpiji pun mengaku harus memangkas keuntungan agar pelanggan tidak lari. Salah satunya dialami Juwarni, 40, pengecer elpiji di Desa Gedangsewu, Pare. Dia mengatakan, sebelum kenaikan bisa meraup cuan Rp 2.500 per tabung.
Saat ini, dia tidak berani menaikkan harga terlalu tinggi. Dia hanya menca[at keuntungan Rp 2 ribu per tabung. Karena harga jual di pengecer hanya Rp 20 ribu saja. Sejauh ini, masyarakat tetap memilih gas 3 kilogram untuk memasak. Yang mereka khawatirkan adalah setelah harga naik tiba-tiba stoknya langka. Dia berharap pasokan elpiji tetap aman.
Untuk diketahui, per 15 Januari lalu, HET elpiji tiga kg di pangkalan naik. kenaikan itu berdasarkan surat Keputusan Gubernur Jawa Timur nomor: 100.3.3.1/801/KPTS/013/2024, harga elpiji tiga kg yang sedianya Rp 16 ribu naik menjadi Rp 18 ribu.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : rekian