KABUPATEN Kediri merupakan klaster cabai di Jawa Timur. Salah satu lokasi yang masyarakatnya bergantung pada pertanian cabai ini berada di Desa Kebonrejo, Kecamatan Kepung. Di sana luas lahannya mencapai 200 hektare. Sekali panen, petani mampu menghasilkan 50 ton untuk sekali petik. Jika dibanderol dengan harga di petani yang nyaris tembus Rp 70 ribu per kilogram maka perputaran untuk sekali panen lebih dari Rp 0,5 miliar. Lantas bagaimana kondisi petani saat harga cabai tembus di angka Rp 100 ribu per kilogram?
Sekretaris Desa Kebonrojo, Yayan Suprayogi mengatakan, cabai dari desanya biasanya didistribusikan ke daerah Pare, Malang, Sidoarjo, Bali, Pasuruan, dan Surabaya. “Stok cabai saat ini masih bisa mencukupi kebutuhan masyarakat di Kabupaten Kediri,” jelas Yayan.
Dia mengatakan, petani memulai kegiatan menanam pada bulan September. Biasanya cabai bisa dipetik tiga bulan setelahnya. Dalam 1 kali tanam, petani bisa memetik cabai merah besar sebanyak 15 kali. Sedangkan untuk cabai merah kecil bisa lebih yaitu 20 kali petik.
Dengan kondisi saat ini mayoritas petani cabai terbilang makmur. Sebab modal yang mereka keluarkan kembali seutuhnya. Bahkan keuntungan yang mereka peroleh bisa sampai 35 persen.
Baca Juga: Terapkan Zonasi Waktu PKL Jalan Dhoho Kota Kediri, Disperindagin juga Bongkar Posko Pengawasan
“Lahan seperempat hektar umumnya membutuhkan modal sebesar Rp 25 juta hingga Rp 40 juta Keuntungan bisa menutup angka produksi tersebut. Margin keuntungan yang diperoleh sekitar 35 persen,” imbuh lelaki berusia 32 tahun itu.
Jika di pasar harga cabai tembus Rp 100 ribu, di desanya dibanderol paling mahal adalah rawit sebesar Rp 68 ribu per kg. Sedangkan untuk harga cabai besar tembus Rp 38 ribu per kg.
Di tingkat petani, harga tersebut sudah mengalami kenaikan. Sebab, sebelumnya harga masih di bawah Rp 20 ribu per kilogram.
Tingginya harga cabai tersebut diduga karena stok cabai yang berkurang karena banyak petani yang gagal panen. Atau hasil panennya tidak maksimal.
Salah satu petani di sana adalah Ahmad Kholik. Lelaki 39 tahun itu mengatakan, kenaikan harga cabai disebabkan karena faktor cuaca dan hama yang menyebabkan hasil panen tidak maksimal.
“Cuaca hujan seperti ini terkadang membawa untung bagi kami. Sebab, kebutuhan air tercukupi. Tetapi penyakit hama tanaman juga menyerang. Panen cabai hasilnya tidak bisa bagus semua,” terangnya.
Data yang dihimpun Jawa Pos Radar Kediri, satu petani yang memiliki lahan satu hektare biasanya bisa panen 3 kwintal untuk sekali petik. Jika harga cabai Rp 68 ribu per kilogram maka untuk satu kali petik mereka bisa mendapatkan hasil Rp 20,4 juta.
Jika dibuat rata-rata panen sampai 16 kali petik maka hasil yang didapat untuk satu kali tanam mencapai Rp 326,4 juta.
Petani Cabai di Desa Kebonrejo, Kecamatan Kepung
*) Satu petani yang punya lahan 1 ha bisa mendapat 3 kwintal untuk sekali panen;
*) Modal tanam seperti bibit, plastik, dan lanjaran Rp 60 juta;
*) Sewa lahan untuk 1 haketre sebesar Rp 28 juta per tahun, dapat dipakai 3 kali tanam;
*) Masih ada biaya untuk buruh petik, pupuk tambahan, dan air mencapai Rp 10 juta.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : rekian