KEDIRI, JP Radar Kediri- Mulai hari ini pasar-pasar hewan di wilayah Kabupaten Kediri akan tutup sementara. Tempat bertemunya pedagang dan pembeli hewan ternak tersebut berhenti beroperasi selama dua minggu. Sebagai upaya menghindari kian merebaknya wabah penyakit mulut dan kuku (PMK).
Satu hari jelang penutupan itu situasi di pasar hewan pun sepi. Tidak banyak aktivitas jual-beli yang berlangsung.
Jumlah sapi yang dibawa pedagang pun menurun drastis dari biasanya. Seperti yang terlihat di Pasar Hewan Tertek Pare, yang memang waktunya hari pasaran, kemarin.
“Kurang dari setengahnya (sapi-sapi yang dibawa ke pasar). Hanya sekitar 100 ekor saja. Ini malah lebih banyak pedagang dan blantiknya dari pada sapinya,” ucap Koordinator Pasar Hewan Tertek Nugroho Wahyu Jatmiko, yang ditemui di lokasi.
Menurutnya, di hari-hari normal, sapi yang datang bisa mencapai 250 ekor. Hal itu, salah satunya, karena sedang mewabahnya kasus PMK. Sehingga, duga Nugroho, peternak takut membawa sapinya ke pasar.
"Karena takut kalau di pasar bisa tertular," dalihnya.
Memang, berdasar data dari Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan (DKPP) Kabupaten Kediri, jumlah hewan yang terkena PMK terus bertambah.
Per Sabtu (11/1) lalu, jumlah sapi yang terjangkit mencapai 675 ekor. Padahal pada 10 Januari lalu total kasus PMK masih 571 ekor.
Dari data terakhir itu, 155 di antaranya bisa sembuh. Kemudian yang mati sebanyak 25 ekor sapi. Sedangkan total yang masih terinfeksi sebanyak 500 ekor.
Merebaknya kasus PMK inilah yang membuat Pemkab Kediri memutuskan untuk menutup sementara pasar hewan. Yaitu mulai hari ini (13/1) hingga 28 Januari mendatang.
"Semua pasar hewan diterapkan hal yang sama, untuk ditutup dan tidak boleh ada kegiatan berkumpulnya sapi di pasar sama sekali," tegas Pelaksana tugas (Plt) Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan (DKPP) drh Tutik Purwaningsih, yang ditemui di Pasar Hewan Tertek kemarin.
Kemarin Tutik bersama timnya memang mendatangi pasar hewan tersebut.
Tujuannya untuk melihat kondisi pasar sekaligus melakukan sosialisasi. Dia mengatakan, tidak ada penolakan dari pedagang terkait kebijakan penutupan pasar hewan.
"Hari ini (kemarin) pasaran terakhir sebelum pasar hewan ditutup. Kami ingin pastikan yang pertama terkait pemahaman pedagang maupun pembeli terkait penutupan pasar. Tadi kami minta kalau ada yang punya unek-unek (tidak terima pasar hewan ditutup, Red) untuk diskusi. Ternyata tidak ada yang mendatangi. Artinya sepakat," dalih Tutik.
Dia melanjutkan, kemarin, setelah kegiatan pasar hewan itu selesai, petugas langsung melakukan sterilisasi. Berikutnya menutup portal pasar dan memasang tulisan bahwa pasar ditutup.
"Ini salah satu upaya untuk mengendalikan penyebaran lebih luas. Karena pasar hewan adalah salah satu berkumpulnya sapi potong. Kami tidak ingin ada kasus di pasar hewan yang dapat menyebar," jelasnya.
Tutik juga menyebut pihaknya menemukan satu ekor sapi yang terindikasi PMK. Pemiliknya pun diminta segera membawa pulang sapi tersebut.
Meskipun ketika diminta menyampaikan unek-unek tidak ada yang muncul, toh, tetap saja ada pedagang yang kurang setuju dengan keputusan penutupan.
Seperti yang disampaikan oleh Saiful Anam, peternak sekaligus blantik asal Cerme, Kecamatan Grogol.
Menurutnya, penutupan ini merugikan para pedagang. Dia berharap pasar hewan tetap buka dengan catatan. Yaitu ada petugas yang mengawasi.
"Kalau ada yang terindikasi sakit biar langsung dipulangkan. Tapi yang memulangkan langsung dari blantik, agar tidak ramai," sarannya.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah