Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Ternyata Ini Penyebab Banyak Pasar Tradisional di Kediri Kelimpungan

Emilia Susanti • Minggu, 5 Januari 2025 | 15:20 WIB

 

Photo
Photo

JP Radar Kediri - Direktur Utama Perumda Pasar Joyoboyo Kota Kediri Djauhari Luthfi tak menampik bila beberapa kios di pasar tutup. Hanya saja, dia menekankan bahwa kondisi itu terjadi di usaha tertentu saja. Utamanya konveksi.

"Terjadi di pasar-pasar lain juga. Pasar Tanah Abang (Jakarta) yang besar juga. Khususnya yang konveksi ya," katanya pria yang akrab disapa Luthfi ini.

Menurutnya, usaha konveksi di pasar ini bisa dikatakan berdiam diri. Momennya adalah pasca pandemi Covid-19.

Saat ini, sudah banyak masyarakat yang melakukan belanja online. Sementara, jarang pedagang di pasar yang melakukan inovasi dan beradaptasi dengan kemajuan teknologi.

Tidak bisa dipungkiri para pelaku usaha konveksi di pasar masih kesulitan menyesuaikan diri lantaran kendala usia.

"Tetapi untuk kunjungan pasar stabil," kilahnya.

Karenanya, Luthfi menampik bila pasar tradisional dikatakan sepi. Dia menekankan bahwa untuk pasar sayur masih ramai dikunjungi masyarakat. Mengingat bahan pangan memang kebutuhan pokok masyarakat.

Walau tak ingin disebut sepi, kini pihaknya tengah berupaya membuat pasar tradisional ramai kembali. Luthfi mengaku Perumda Pasar Joyoboyo berusaha mengenalkan kembali tentang pasar.

Baik melalui promosi di media sosial ataupun sosialisasi. Salah satu contohnya melakukan edukasi kepada anak TK dan PAUD.

"Kami ajak ke pasar. Tujuannya untuk mengenalkan pasar," jelasnya.

Selain itu, Luthfi mengaku pihaknya aktif melakukan promosi di media sosial. Seperti membuat konten-konten menarik.

Selain itu juga membantu mempromosikan usaha para pedagang pasar. Semua upaya itu memang dilakukan agar pasar bisa lebih ramai.

Yang tak kalah penting, ada standar nasional Indonesia (SNI) yang diberlakukan. Tetapi ada syarat-syarat yang harus dipenuhi untuk mendapat sertifikasi tersebut.

Contohnya ketentuan zonasi di dalam pasar. Lalu juga ada terkait dengan kenyamanan dan keamanan. Sayangnya, pasar di bawah naungan Perumda Joyoboyo belum ada yang ber-SNI.

"Perlu waktu. Tetapi kami menuju ke sana," tandasnya.

Terpisah, pengamat ekonomi Sri Luayi berpendapat pasar tradisional memang harus nyaman. Bahkan tak sebatas itu. Pasar juga harus dibuat menarik.

Stigma kumuh atau bau harus bisa dihilangkan. Kemudian, fasilitas umum juga harus tersedia dan nyaman.

Bahkan perlu ada transportasi umum untuk memudahkan akses masyarakat yang ingin ke pasar.

"Pasar harus lengkap, apa yang dibutuhkan masyarakat itu ada di pasar. Yang tidak ada di mal, di pasar tradisional ada. Lalu harga juga harus bisa bersaing," lanjut wanita yang akrab disapa Luayi ini.

Lebih dari itu, kondisi pasar tradisional yang dikatakan sepi saat ini tidak hanya disebabkan oleh gempuran toko online. Menurutnya, ada persoalan mendalam yang mengakibatkan pasar lesu.

Adalah daya beli masyarakat yang melemah yang dimulai dengan pandemi Covid-19. Utamanya untuk daya beli masyarakat kelas menengah ke bawah.

"Kemudian agak bergeliat (pemulihan, Red), tetapi setelah itu ada pemilu dan sampai ke sini (pilkada). Kemudian disambut PPN naik. Seperti tidak ada jeda," jelasnya.

Karenanya, Luayi berpandangan bahwa keberadaan e-commerce tidak menjadi penyebab utama atas sepinya pasar tradisional.

Melainkan daya beli masyarakat menengah ke bawah yang melemah. Padahal, mereka adalah orang-orang yang membelanjakan uangnya di pasar.

Di sisi lainnya, pangsa pasar dari pasar tradisional dan e-commerce berbeda. Menurut Luayi, masih ada kelompok masyarakat yang berada di pelosok atau pinggiran yang memerlukan pasar.

Sehingga, langkah tepat untuk kembali meramaikan pasar adalah meningkatkan daya beli masyarakat.

"Pemerintah harus membuat kebijakan yang dampaknya bisa menggairahkan transaksi masyarakat yang menengah ke bawah. Dan itu (pasar tradisional) adalah ukuran bahwa (kondisi) ekonomi bagus," ingatnya.

Namun demikian, para pedagang yang di pasar juga perlu melakukan adaptasi.

"Mau tidak mau, terima atau tidak, teknologi terus berkembang. Kalau tidak adaptif maka akan punah," ingatnya.

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#radar kediri #Pasar Sepi #omzet menurun #pasar kediri #pasar joyoboyo #pasar tradisional #persaingan dagang #jawa pos #kota kediri