KEDIRI, JP Radar Kediri - Mendatangi tiga pasar tradisional ternama di Kediri, kondisinya setali tiga uang alias sama saja. Pengunjungnya sangat sepi.
Kios-kiosnya banyak yang tertutup rapat, alias sudah tidak buka lagi. Terutama di blok-blok pedagang pakaian atau konveksi.
Jawa Pos Radar Kediri memang hanya mendatangi tiga pasar saja, Pasar Pahing dan Bandar di Kota Kediri serta Pasar Pamenang di Pare, Kabupaten Kediri.
Namun, kondisi pasar tradisional lainnya juga serupa. Tak banyak didatangi konsumen!
Toh, para pejuang nafkah di sentra-sentra perdagangan itu masih mencoba bertahan. Tetap menjajakan dagangannya.
Menggantung baju model terbaru. Sebagian dipasang pada boneka pajangan, atau manekin.
Ketika ada pengunjung lewat, suara memanggil langsung terdengar. Datangnya dari para pedagang. Mencoba merayu agar mampir ke kiosnya.
“Tak laku itu biasa. Tapi ditelateni saja, bisanya ini,” ucap Samsudin. Pria berusia 50 tahun ini adalah salah seorang pemilik kios di Pasar Bandar.
Bukan tanpa alasan Samsudin memilih bertahan. Dia tak punya pekerjaan lain.
Bila memulai usaha baru jelas harus dari nol! Yang butuh modal dan kerja keras juga. Walaupun bisnisnya ini sudah tak lagi menguntungkan.
Alasan serupa disuarakan Nurul, pedagang pakaian di Pasar Pahing. Perempuan 49 tahun ini bahkan menyebut omzetnya saat ini sudah turun hingga 80 persen!
Lucunya, meskipun turun dia kini justru punya banyak kios. Tempat berjualan milik pedagang lain yang tutup dia manfaatkan.
"(Kios) punya saya dulu cuman tiga. Sekarang empat belas. Ditawari untuk pakai ya wis tak pakai. Saya ganti retribusinya dia. Kalau nggak saya tempati dan isi kan makin sepi. Orang mau masuk males. Kalau gini (ditempati, Red) setidaknya kelihatan ada barang. Kan jadi ramai," kata wanita yang sudah berjualan di Pasar Pahing selama 25 tahun ini.
Nurul juga tidak menyerah begitu saja. Dia tetap memperbarui barang dagangan. Menyiapkan yang masih dicari orang.
Hanya, tidak banyak. Beberapa potong saja agar dia tetap bisa bersaing.
Baik Samsudin maupun Nurul mengakui kondisi sepi seperti ini sudah terasa dua tahun terakhir. Jauh lebih sepi dibanding ketika masa pandemi Covid-19.
Mereka menduga, maraknya belanja online ketika pandemi justru yang memicu sepinya pengunjung pasar tradisional.
Mengapa tak mengubah pola penjualan dengan menggabungkan online shop? Keduanya menggeleng.
Merasa kesulitan bila harus jualan online karena butuh waktu khusus serta harus selalu up date model.
"Kan harus up date terus. Barangnya juga harus ada. Kalau cuman punya beberapa terus warna yang diminta sudah kejual (di pasar), ya nggak bisa (melanjutkan penjualan online)," dalih Nurul, ketika ditemui Kamis (19/12).
Alasan Samsudin pun mirip. Juga tidak pula berusaha menjajakan barang dagangannya di rumah. Dia memilih tetap pergi ke pasar. Terus membuka kios meskipun merugi.
"Begini aja, pokok telaten. Kalau buka di rumah diutangi tangga (diutang oleh tetangga, Red)," katanya sembari menyebut dirinya kini menggantungkan kebutuhan rumah tangga pada anak pertamanya.
Berbeda, Wiji Mianto, 77, pedagang pakaian di Pasar Pare tampak tak ada beban ketika dagangannya tidak laku sama sekali. Menurutnya, tidak ada pembeli menjadi hal wajar.
Bahkan tak laku sampai lima hari pun sudah biasa. Ya, karena tujuan berdagang untuk dirinya bukan lagi untuk mencari keuntungan. Melainkan mengisi waktu luang di usianya yang sudah senja.
"Sekarang saya buat hiburan," akunya.
Tidak hanya pedagang pakaian yang mengeluhkan sepinya penjualan. Penjula gerabah di Pasar Pamenang Pare juga merasakan hal yang sama.
"Ya entuk sakmene tok lo mbak. Biasanya sampe ngko sore ya panggah," katanya sembari menunjukkan uang Rp 5 ribu yang didapatkannya dari penjualan barang dagangannya.
Menurutnya, momen-momen seperti hajatan ataupun Lebaran sudah tidak bisa dijadikan gantungan lagi. Penjualannya tak bergairah seperti dulu.
Namun, dirinya menengarai sepinya pengunjung yang masuk pasar lantaran banyaknya pedagang yang berjualan di sisi luar pasar.
"Bakul-bakul saiki pada ndek njaba. Saman delok dewe (pedagang-pedagang sekarang berjualan di luar pasar. Anda lihat sendiri, Red)," ujarnya.
Hal itu dibenarkan Sumistri, 62, pedagang kentang yang ada di Pasar Pamenang Pare. Dia pun menunjukkan beberapa los di sekitar tempatnya berjualan yang sudah tutup lantaran sepinya pengunjung.
"Ngesakne sing bakul janganan, lak ga payu kan layu. Saiki sepi ndek njero, bakulan ndek njaba kabeh (kasihan yang jualan sayur, kalau tak laku pastil ayu. Sekarang sepi di (pasar) dalam. Jualan di luar pasar semua, Red," keluhnya.
Terpisah, Jamini, 48, warga asal Kecamatan Grogol mengaku dirinya merupakan orang yang masih memilih pasar untuk berbelanja.
Bahkan saat Lebaran, dia masih pergi ke pasar untuk membeli baju.
"Ya pernah online, tapi ga sesuai. Kalau saya masih ke pasar," katanya.
Sementara, untuk kebutuhan dapur, Jamini memilih untuk berbelanja di tukang sayur keliling. Dirinya mengaku baru ke pasar jika tengah menggelar hajatan.
"Ya jarang. Paling ya kalau mau ada acara," tandasnya.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah