KEDIRI, JP Radar Kediri- Tren menurunnya kunjungan pembeli di kawasan pertokoan Jl Dhoho mendorong pelaku usaha di sana untuk beradaptasi. Salah satunya, dengan mulai memasarkan produk secara online. Sayangnya, hasil yang diraih oleh toko-toko di jatung Kota Kediri itu tetap belum bisa signifikan.
Seperti yang diakui Darmono, salah satu pelaku usaha yang sudah menjalankan toko di sana sejak 34 tahun lalu.
Pemilik toko pakaian itu mengaku sudah mencoba memasarkan produknya lewat online.
“Mulai awal covid dulu penjualan toko saya bantu dengan online,” akunya.
Setelah beberapa saat berjalan, diakuinya penjualan online bukanlah hal yang mudah.
Artinya, pemasaran cara baru itu tidak bisa serta-merta menjadi substitusi atau pengganti penjualan di toko offline yang semakin sepi.
Baca Juga: Toko di Jalan Dhoho Kota Kediri Banyak yang Gulung Tikar, Ini Penyebabnya
“Nggak semudah itu. Harus rajin tiap hari update,” sambungnya.
Penurunan yang terus terjadi selama beberapa tahun ini membuatnya harus memangkas jumlah karyawan.
Pria yang awalnya memiliki 12 sampai 15 karyawan itu kini hanya menyisakan tiga orang saja.
“Sekarang ini sudah tinggal survive saja,” terangnya nyaris pasrah sembari menyebut penjualan online di tokonya tidak lagi dilanjutkan.
Hal senada diungkapkan oleh Herry Susanto, pelaku usaha lainnya di Jl Dhoho.
Pria yang tokonya menjual berbagai jenis perlengkapan bayi itu juga merambah pemasaran online sejak pandemi Covid-19 lalu.
Seolah kompak dengan Darmoro, menurutnya pendapatan dari penjualan daring itu tidak terlalu signifikan.
“Tetap di toko (pendapatan paling banyak). Karena online-nya memang kita tidak fokuskan di situ. Kecuali kalau memang difokuskan ya beda lagi. Mungkin perbandingannya online hanya 10-15 persen saja,” papar pria yang juga salah satu pengurus Nahdlatul Ulama Kota Kediri itu.
Meski hasilnya tidak besar, menurut Herry pelaku usaha tetap dituntut bisa beradaptasi dengan perubahan tren di masyarakat.
Selain mencoba memasarkan secara online, baginya pelaku usaha juga harus kreatif.
“Kalau kita sering ada promo-promo, customer ya tertarik sih. Cuma kendalanya sekarang, orang-orang susah cari parkirnya itu,” keluhnya.
Sulitnya mencari lahan parkir, menurut Herry, salah satunya disebabkan alih fungsi lahan parkir menjadi lapak pedagang kaki lima (PKL).
Padahal, sudah ada perwali yang mengatur tentang jam operasional PKL di ruas jalan tersebut.
“Kalau pagi sampai jam 07.00 saja, sudah steril. Tapi dulu waktu pertemuan di dishub, ditoleransi sampai jam 08.00. Molor-molor jam 09.00 lah. Tapi sekarang jam 09.00 baru ringkes-ringkes,” tandasnya.
Padahal, tokonya sudah mulai beroperasi sejak pukul 08.00. Dengan bahu jalan yang masih dipenuhi PKL, otomatis ruang parkir jadi berkurang.
“Jadi orang mau parkir susah nyarinya. Akhirnya nggak jadi beli di Jl Dhoho, cari barang di tempat lain,” urainya.
Hal serupa terjadi di malam hari. Berdasarkan Perwali 37 Tahun 2015, jadwal PKL di Jl Dhoho dimulai pukul 21.00. Namun, sejak pukul 18.00 sudah banyak pedagang yang membuka lapaknya.
“Itu kan kalau dihitung bisa memakan tempat sampai dua mobil,” jelasnya.
Seperti diberitakan, penjualan yang terus lesu membuat banyak toko-toko di Jl Dhoho yang tutup.
Baik karena ditinggalkan penyewanya atau tidak lagi dioperasionalkan pemiliknya.
Berdasarkan hitungan kasar koran ini, dari total 172 toko di Jl Dhoho, sebanyak 56 di antaranya jarang berjualan hingga tutup permanen.
Beberapa faktor yang ditengarai menjadi penyebab, antara lain daya beli masyarakat yang menurun, gesekan dengan PKL, hingga terdampak tren penjualan online.
Berdasar data salah satu pelaku usaha di sana, total toko di ruas jalan itu awalnya ada sekitar 200 unit.
Dari jumlah tersebut, kini tinggal sekitar 150 yang masih eksis alias mampu bertahan.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah