KEDIRI, JP Radar Kediri- Harga komoditas pangan diketahui kerap tidak menentu. Seperti cabai. Pada awal Agustus lalu, harganya sempat tembus Rp 70 ribu per kilogram. Sekarang, anjlok menjadi Rp 31 ribu per kilogram.
“Sempat terjadi kenaikan harga cabai. Itu karena belum masuk masa panen,” ungkap Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Kediri M Ridwan.
Khusus cabai, komoditas ini memang masih menjadi penyumbang inflasi. Namun, kini harganya turun lantaran stok cabai sedang melimpah.
Adapun komoditas pangan lainnya juga mengalami penurunan harga. Seperti bawang merah. Harganya terus turun pasca lebaran.
Sedangkan ketersediaan beras untuk saat ini dinilai cukup. “Untuk penyaluran beras akan dilanjutkan Oktober. Bulan ini (September, Red) kami jeda,” terang pria yang akrab disapa Ridwan ini.
Baca Juga: Dukung Pengembangan Ekonomi Desa, Program Desa BRILiaN 2024 Terus Berlanjut
Alasan bantuan beras itu hentikan karena harga beras sudah stabil. Jika terus digelontorkan bisa menyebabkan harga di petani menjadi anjlok.
Ridwan menambahkan, tidak ada lonjakan permintaan. Yang ada justru penurunan penjualan.
Situasi ekonomi belakangan memang menarik perhatian. Turunnya penjualan dari pedagang menjadi anomali. Sebab, kegiatan Hari Kemerdekaan Indonesia seharusnya membuat permintaan di pasar meningkat.
“Agustusan tidak terjadi inflasi, ini seperti yang saya duga,” ujar Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Nusantara PGRI (UNP) Kediri Subagyo.
Menurutnya, terjadinya deflasi bisa dipicu oleh penurunan harga pangan. Mulai dari produk tanaman pangan, hortikultura, dan peternakan.
“Meskipun demikian ada beberapa jenis barang yang menyumbang inflasi seperti cabai, BBM, dan pendidikan,” tambah Subagyo.
Lebih jauh, deflasi dipicu pula daya beli masyarakat. Subagyo menerangkan daya beli yang menurun terlihat dari berkurangnya jumlah penduduk kelas menengah.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Dari data BPS terdapat penurunan jumlah kelas menengah dari 57,33 juta jiwa di 2019 menjadi 47,85 juta jiwa 2024.
“Kelas menengah merupakan segmen yang memiliki daya beli cukup tinggi. Jika jumlah mereka berkurang, maka keseluruhan permintaan konsumen cenderung menurun,” tekannya.
Editor : Anwar Bahar Basalamah