KOTA, JP Radar Kediri– Penyaluran kredit perbankan di wilayah Kediri mengalami kenaikan pada April lalu. Angkanya tertinggi dibandingkan Januari – Maret 2024. Catatan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Kediri, penyaluran kreditnya tembus Rp 86,67 miliar.
Penyaluran kredit masih didominasi oleh tiga sektor. Antara lain perdagangan besar dan eceran sebesar 24,98 persen. Kemudian sektor bukan lapangan usaha rumah tangga yang meliputi kepemilikan rumah, flat atau apartemen, ruko, kendaraan bermotor, dan peralatan rumah tangga. Nilainya, sebesar 21,79 persen. Ketiga, penyaluran kredit pada sektor industri pengolahan sebesar 19,39 persen.
Menurut Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Nusantara PGRI (UNP) Kediri Subagyo, kenaikan penyaluran kredit itu tidak lepas adanya momen Ramadan. Saat itu, kebutuhan masyarakat mengalami kenaikan.
“Kebutuhan meningkat untuk buka puasa, kue lebaran, baju lebaran, biaya transportasi bagi yang mudik, hingga tradisi memberi uang saku. Mereka yang kekurangan dana akan mengambil alternatif tersebut,” jelasnya.
Terpisah, Direktur Utama BPR Artha Samudra Indonesia Arif Widyatmoko membenarkan kondisi tersebut. Di akhir semester satu tahun ini, rata-rata perbankan memang mengalami pertumbuhan kredit. Pertumbuhan juga dipengaruhi adanya dampak selesainya masa pandemi Covid-19.
Dunia usaha mulai bergeliat lagi. “Ada kegiatan kemasyarakatan, aktivitas sekolah, kebutuhan hari raya, mayoritas permintaan kredit itu juga naik,” terangnya sembari menyebut momen-momen tersebut yang membuat penyaluran kredit meningkat di semester satu.
Di bank yang dia pimpin, Arif mengaku ada pertumbuhan kredit. Dia memprediksikan kredit tersebut tumbuh sekitar 5 persen di semester satu nanti. Pertumbuhan kredit ini juga terjadi di lembaga lain. Seperti koperasi, lembaga pembiayaan, dan perbankan sendiri.
“Fintech (financial technology, Red), pinjol (pinjaman online, Red), itu juga merasakan kue di bisnis UMKM (Usaha Mikro Kecil Menengah, Red),” sambungnya saat ditemui di kantornya kemarin sore.
Arif sendiri mengungkapkan bahwasanya permintaan kredit sebenarnya besar di semester satu tahun ini. Tetapi, lembaga keuangan tentunya tidak bisa selalu mengkonversi permintaan itu menjadi kredit. Pasalnya, mereka juga harus memperhatikan kualitas kredit yang disalurkan. Jika tidak berhati-hati, malah akan menjadi kredit macet.
“Permintaan kredit itu banyak, tetapi belum tentu berkualitas. Karena yang memberikan keuntungan itu kualitas,” tandasnya.
Adapun ada hal-hal yang memengaruhi permintaan kredit tersebut adalah suku bunga kredit. Tingkat pendapatan masyarakat lalu ekspektasi masyarakat terhadap kondisi ekonomi di masa yang akan datang. Termasuk kebutuhan konsumsi dan investasi, kebijakan pemerintah juga bisa. Misalnya insentif pajak, bunga, dan kredit bersubsidi.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah