KEDIRI, JP Radar Kediri - Harga beras mahal beberapa bulan lalu disebabkan karena adanya El Nino. Situasi tersebut menyebabkan panen raya petani menjadi mundur. Sehingga stok yang tersedia di petani menjadi berkurang, sementara permintaannya tinggi.
Saat ini, harga beras masih dalam kondisi wajar. Di lapangan, tidak ada kendala dalam proses produksi dan distribusi. “Kami akan terus evaluasi dan analisis. Belum ada intervensi karena sifatnya situasional,” terang Muhammad Ridwan, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Kediri.
Untuk mengantisipasi lonjakan harga, program bantuan pangan (bapang) tetap berlangsung hingga Juni mendatang. Setelahnya, pihaknya akan menunggu keputusan dari pemerintah pusat apakah bapang akan dilanjutkan atau tidak.
Pria yang akrab disapa Ridwan itu memaparkan, serapan padi mengalami peningkatan pada April lalu. Itu sekaligus menjadi yang tertinggi dalam caturwulan pertama besarnya 2,9 ribu ton. Rinciannya pada Januari sebesar 128,7 ton, Februari 114,8 ton, dan Maret naik sebanyak 673,2 ton. “Totalnya hingga April itu sekitar 3,8 ribu ton,” lanjut Ridwan.
Terpisah, Kepala Bulog Cabang Kediri Imam Mahdi mengatakan, pihaknya menargetkan, beras PSO (public service obligation) menyerap sebanyak enam ribu ton. Lalu, untuk penyerapan saat ini, sudah mencapai sekitar 4,5 ribu ton. Pihaknya pun yakin target tersebut tercapai pada tahun ini mengingat masih ada sisa tujuh bulan lagi.
“Akhir Mei ini bisa lima ribu ton,” ujarnya yakin.
Atas kenaikan harga yang terjadi pada awal tahun ini, Imam mengatakan bahwa hal itu terjadi lantaran stok yang menipis. Sementara, permintaan dari masyarakat jumlahnya tetap.
Imam menekankan bahwa stok beras di gudang Bulog saat ini mencapai 18 ribu ton. Dia menyebut stok tersebut bisa memenuhi kebutuhan masyarakat hingga enam bulan ke depan. Menurutnya, momen Idul Adha nanti tidak akan terlalu mempengaruhi harga beras.
“Supply-nya banyak. Harga mungkin naik tetapi tidak terlalu tinggi,” jelasnya.
Di sisi lain, Imam menerangkan bahwa tak hanya El Nino saja yang menyulitkan petani. Namun, La Nina juga akan bisa mengancam para petani. Yang menyebabkan produksi beras dalam negeri bisa terganggu.
Tak hanya itu, Imam juga mengungkapkan bahwa ongkos produksi di tingkat petani menjadi mahal. Pasalnya, kebanyakan para petani padi tidak bercocok tanam di lahan sawahnya sendiri. Melainkan sewa dari orang lain.
“Modal yang dikeluarkan tinggi, tidak sesuai dengan panennya,” tandasnya.
Keluhkan Harga Pupuk Semakin Mahal
Sementara itu, Memasuki masa panen, stok beras di wilayah Kediri Raya semakin meningkat. Meskipun begitu, bukan berarti petani tidak memiliki masalah produksi. Mereka mengeluh harga pupuk yang kian melangit.
“Pupuknya semakin mahal,” keluh Arif Mohadi, 38, buruh tani asal Desa Kwadungan, Kecamatan Ngasem. Dia mengatakan, harga pupuk non subsidi berbeda jauh dengan pupuk subsidi.
Harganya bisa dua kali lipat lebih. Bila pupuk subsidi per 50 kilogram dijual dengan harga Rp 125 ribu, pupuk non-subsidi dijual Rp 250 ribu. Bahkan ada yang dibanderol dengan harga Rp 325 ribu, tergantung merek yang dibeli.
“Setiap seratus ru, dijatah 25 kilogram. Padahal seratus ru itu butuh 150 kilogram pupuk,” ucap Aris saat ditemui tengah berkumpul dengan para buruh tani lainnya.
Hal yang sama juga menjadi keluhan Imam, 58, petani di Desa Jabon, Kecamatan Banyakan. Dia mengatakan, keuntungan petani sangat kecil. Hal itu disebabkan karena biaya produksinya yang tinggi.
“Untungnya jadi kecil. Karena pupuknya mahal.” ucapnya. Masalah tersebut menyebabkan hasil panennya juga tidak bisa maksimal. Dua harus mengurangi penggunaan pupuk untuk tanaman padinya di lahan seluas 265 ru. Dengan luas tersebut, dia hanya bisa panen 2,9 ton. Idealnya Imam bisa mendapatkan hasil panen yang lebih banyak lagi.
Meski saat ini harga gabah terbilang masih tinggi sebesar Rp 5.200 per kilogram, dia mengaku pendapatan tersebut sebanding dengan biaya produksi yang dikeluarkan. Dia berharap ada pemerintah daerah turun ke lapangan memberikan penyuluhan terkait masalah yang dialami petani.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram"Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah