Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Haga Bawang Merah di Kabupaten Kediri Tembus Rp 55 Ribu Per Kilogram, Ternyata Ini Pemicunya

Anwar Bahar Basalamah • Senin, 22 April 2024 | 19:05 WIB
MAHAL: Yosi, petani asal Desa Mojoayu, Kecamatan Plemahan menjemur bawang merah di rumahnya. Setelah lebaran, harga jual tembus Rp 55 ribu per kilogram hingga kemarin.
MAHAL: Yosi, petani asal Desa Mojoayu, Kecamatan Plemahan menjemur bawang merah di rumahnya. Setelah lebaran, harga jual tembus Rp 55 ribu per kilogram hingga kemarin.

KEDIRI, JP Radar Kediri - Harga bawang merah di Kabupaten Kediri mengalami lonjakan signifikan. Kemarin, harganya tembus Rp 55 ribu per kilogram. Kenaikan harga terjadi selama dua minggu terakhir.

Marsinah, 55, pedagang grosir di Pasar Induk Pare, mengatakan, kenaikan harga bawang merah terus merangkak naik. Hal itu disebabkan karena harga pasokan dari petani mulai menurun. Dan permintaan di pasarnya tetap tinggi. “Sebelum Lebaran harganya Rp 35 ribu per kilogram, sekarang naik Rp 20 ribu per kilogram,” ungkapnya. 

Jika stok barangnya terus menurun, tidak menutup kemungkinan harganya akan terus naik. Meskipun harga jual tinggi, para petani tetap waspada terhadap kondisi cuaca yang tidak menentu. Sutikno, 56, seorang petani bawang merah di Desa Kedungmalang, Kecamatan Papar, mengungkapkan, kenaikan harga ini merupakan hal biasa terjadi saat musim hujan. 

Menurutnya, menanam bawang merah saat musim hujan lebih sulit dan berisiko. "Tidak banyak petani yang berani menanam bawang merah saat musim hujan karena memang sulit dan membutuhkan ketelatenan," ungkap Sutikno saat ditemui di rumahnya. Hal itu menjadi salah satu faktor stok bawang merah berkurang. 

Sutikno menjelaskan, tanaman bawang merah idealnya ditanam saat musim kemarau. Pada musim kemarau, tantangannya rentan terhadap hama ulat. "Kalau hama ulat bisa diatasi dengan menggunakan obat ulat," jelasnya.

Jika menanam bawang merah saat musim hujan maka risikonya tidak umbi yang tidak bisa tumbuh maksimal. "Biasanya umbi tidak mau beranak, sehingga berat produksinya tidak bisa maksimal," jelasnya.

Menurut Sutikno, saat ini belum banyak petani bawang merah yang panen. Meskipun ada yang sudah panen, hasilnya belum bisa memuaskan karena curah hujan yang masih tinggi.

"Saya dengar baru petani bawang merah di Kecamatan Kepung mulai panen, sedangkan di Desa Sekoto, Kecamatan Pare yang menjadi basis bawang merah belum panen," ungkapnya.

Sutikno berharap harga jual bawang merah tetap tinggi. Hal itu karena perawatannya yang sulit. Selain itu, dia juga berharap kondisi cuaca yang baik dapat membawa dampak positif bagi para petani, khususnya di Kediri.

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#naik harga #harga bawang mahal #bawang merah