KEDIRI, JP Radar Kediri-"Kampung Petarung itu singkatan. Kepanjangannya adalah Kampung Penghasil Telur Asin, Horn, Ayam Kampung, dan Gemak (burung puyuh, Red)," ucap Kades Wonorejo Agus Setikyo, mengawali obrolan.
Desa ini memang harus punya produk unggulan. Menyusul status mereka menjadi desa mandiri 2021 lalu. Predikat yang mengantar mereka mendapat pelatihan di Malang, bersama dengan desa mandiri lain di Jatim.
Bukan asal bila telur jadi andalan desa ini. Mereka memiliki delapan peternak ayam horn. Jumlah totalnya mencapai 5 ribu ekor.
"Setiap hari menghasilkan telur 11 hingga 12 ton," tandas sang kades.
Sebagai andalan, sektor ternak ayam petelur sangat diperhatikan pemdes. Mereka mulai membangun gedung pertemuan dan galeri pada 2023 lalu. Di sampingnya juga dibuat kios yang bisa untuk para pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) memasarkan produknya.
Pemdes berharap, gedung pertemuan itu memancing inovasi peternak. Agar tidak sebatas menjual telur secara mentahan. Namun juga bisa melakukan pengemasan agar menaikkan nilai jual.
"Bila gedungnya jadi, peternak akan diminta berdagang di tempat itu dan melakukan inovasi seperti dicontohkan," terang kades 53 tahun ini.
Tak hanya itu yang dilakukan pemdes. Mereka juga melakukan pengolahan kotoran ayam. Membelinya dari peternak. Menjadikannya bahan kompos fermentasi. Untuk pupuk bagi pepaya dan jamu air yang ditanam di dekat tempat pembuangan sampah re-use, re-duce, dan re-cycling (TPS 3R).
Sebelumnya, para peternak langsung menjual kotoran hewan itu ke pembeli di Jogja. Dengan upaya itu, pemdes juga melakukan edukasi pemanfaatan sampah organik menjadi pupuk.
Editor : Anwar Bahar Basalamah