KEDIRI, JP Radar Kediri – Perum Bulog Cabang Kediri tidak hanya menggelontor beras murah program stabilisasi pasokan dan harga pangan (SPHP) ke pasar tradisional. Meski demikian, program tersebut tetap belum bisa menurunkan harga beras. Pun setelah beras dengan harga murah itu diserbu pembeli setiap harinya.
Seperti diungkapkan oleh Lilik Ulik Agustin, 49, salah satu pedagang di Pasar Setonobetek. Bekerja sama dengan bulog, Lilik mengaku mendapat jatah 1,5 ton beras SPHP setiam minggu. “Beras selalu habis sebelum jadwal pengiriman,” kata Lilik.
Satu paket beras seberat 5 kilogram (kg) dijual seharga Rp 55 ribu. Harga tersebut masih jauh lebih murah dibanding harga pasaran yang mencapai Rp 13 ribu untuk beras jenis IR64. “Ini datang hari Selasa tetapi hari ini (Jumat, Red) sudah tidak ada stok,” lanjut Lilik sembari menunjukkan tempat penyimpanan beras bulog.
Untuk diketahui, selain menjual beras bulog, Lilik juga menjual beras kualitas medium seharga Rp 13 ribu per kg. Sedangkan beras kualitas premiun dibanderol Rp 14,5 ribu. Gerojokan beras bulog, diakui Lilik belum bisa membuat harga beras turun. Melainkan, hanya membuat beras dengan harga yang lebih mahal itu sepi pembeli.
“Sejak ada beras dari bulog, beras yang ini (medium dan premium, Red) ya agak awet,” terangnya sembari menyebut dalam sebulan dia hanya bisa menjual maksimal lima kuintal.
Lebih jauh Lilik menjelaskan, hingga kemarin dirinya belum kesulitan mendapatkan stok beras dari pengepul. Meski demikian, dalam beberapa hari ke depan dia khawatir hal tersebut akan terjadi. Sebab, pengepul mulai kesulitan mencari beras dari tempat penggilingan padi. “Kadang nggak ada barang,” jelasnya.
Terpisah, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Kediri M. Ridwan mengakui jika harga beras masih tinggi. Terkait keberadaan pedagang yang berjualan beras bulog, hal tersebut juga sepengetahuan DKPP. “Mereka (pedagang, red) memang bermitra dengan Bulog. Tetapi kalau untuk teknisnya saya kurang mengetahui,” terangnya.
Dikonfirmasi tentang stok padi yang mulai langka, Ridwan menyebut hal itu tidak bisa dihindari. Fenomena tersebut menurutnya akibat adanya El Nino. Sehingga, petani kebanyakan tidak menanam padi. Jika tetap menanam padi para petani khawatir akan mengalami gagal panen. Faktor lainnya adalah belum adanya musim panen raya padi. “Jadi hal ini (kenaikan harga, red) wajar karena supply-nya berkurang,” jelasnya.
Menyikapi hal tersebut, pemerintah menggencarkan operasi pasar dan penyaluran bantuan pangan. Di Kota Kediri, sedikitnya ada 30/145 keluarga yang mendapat bantuan pangan. Masing-masing mendapatkan beras sebanyak 10 kg. “Kami membagikan beras untuk masyarakat tidak mampu selama tiga bulan ke depan,” tandasnya sembari menyebut penyaluran pertama dilakukan hingga kemarin.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah