Perempuan asal Kecamatan Puncu tersebut mengaku, harga cabai pernah turun hingga Rp 14 ribu per kg. Harga cabai saat ini jauh berbeda dengan awal Ramadan. Sebelumnya pada 23 Maret, harga di kisaran Rp 75 ribu/kg. “Lombok mudune langsung Rp 10 ribu terus,” beber Marsumi.
Dalam sehari, dagangan cabainya bisa laku hingga 2 – 3 kuintal. Meski mendekati Lebaran, Marsumi tak menambah stok. Tetapi, bila ada pesanan lebih dari pelanggan siap menyediakan. “Kadang sing biasanya beli 2 kg jadi 5 kg. Yang biasanya 5 kg jadi 10 kg,” terangnya sambil merapikan dagangannya.
Harga cabai yang sangat fluktuatif membuat Marsumi tidak bisa memaksimalkan keuntungan. Sebab, ketika pagi beli Rp 20 ribu, siang sudah berubah Rp 18 ribu. “Nggak tentu. Kalau pas beli harganya murah terus pas jualnya, harga sudah naik, itu bisa untung Mbak,” katanya.
Hampir mirip cabai, harga telur kini juga terpaut jauh dengan saat awal Ramadan. Jika awal dulu Rp 30 ribu kini hanya Rp 23.500 ribu. Meski begitu, harga itu telah naik dari sebelumnya Rp 23 ribu.
Nurul, pedagang telur di Pasar Induk Pare, mengatakan, permintaan masyarakat mulai meningkat di malam ke 21 puasa. Biasanya, stok 200 peti telur habis dalam 2 – 3 hari. Setiap satu peti, total ada sekitar 10 kg telur. Menurutnya, jika pasar ramai, stok 200 peti habis dalam satu hari. “Ini tadi ya habis,” jelasnya.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel. Editor : Anwar Bahar Basalamah