“Baru ini (Sabtu) naiknya. Menyesuaikan tarif hari raya,” ujar Anto, 32, sopir bus Harapan Jaya jurusan Surabaya-Blitar saat ditemui Jawa Pos Radar Kediri di Terminal Pare kemarin.
Menurut dia, kenaikan tarif itu kebijakan dari operator. Soalnya, bukan hanya bus Harapan Jaya yang menaikkan harga tiket. Tercatat, bus Bagong juga melakukan hal serupa. Menggunakan patokan tarif baru saat hari raya.
Walau begitu, kenaikan tersebut cukup beragam. Anto menuturkan, umumnya harga tiket lebih mahal Rp 10 ribu - Rp 25 ribu dari biasanya. Seperti halnya tarif dari Surabaya-Blitar yang sebelumnya Rp 40 ribu, kini jadi Rp 65 ribu. “Naiknya beda-beda. Tergantung pemberhentiannya,” ucap pria asli Blitar tersebut.
Hingga kemarin, peningkatan pemudik belum terasa. Kapasitas bus masih wajar. Tidak sampai berdesakan. Bahkan, beberapa kursi ada yang belum terisi. Menurut Anto, geliat pemudik diprediksi baru terjadi Selasa (18/4). Mengingat, keesokan harinya sudah berlaku cuti bersama. “Mungkin Selasa sore itu baru terasa orang mudik,” tutur Anto.
Kenaikan tarif bus antarkota tersebut belum banyak diketahui calon penumpang. Bahkan, mayoritas tahu ada kenaikan harga hari raya ini saat sudah dalam bus. Sehingga mau tidak mau mereka harus menerima kebijakan tarif baru tersebut. “Nggak tahu kalau tarifnya naik. Jombang-Pare tadi kena Rp 30 ribu,” ungkap Fatimah, 43, penumpang yang turun di Terminal Pare kemarin.
Berbeda dengan Hendra Kurniawan, 27, penumpang yang hendak ke Surabaya. Ia mengaku, sudah tahu kenaikan tarif bus antarkota. Pasalnya, kenaikan semacam ini rutin diberlakukan setiap hari raya. Sehingga dirinya tidak kaget lagi. Terlebih, dia sering menggunakan moda transportasi bus untuk bepergian.
“Kebetulan tiap ada urusan ke Surabaya juga naik bus. Jadi sudah dengar isu-isu mau naik tarifnya,” tandas Hendra.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel. Editor : Anwar Bahar Basalamah