Sri Banun, 57, pedagang Pasar Papar, menjelaskan, kenaikan harga BBM membuat dagangannya tidak lagi laris seperti dulu. Akibatnya, dia harus mengurangi jumlah dagangannya. “Biasanya kulakan cabai 20 kilogram, sekarang 10 kilogram saja barangnya masih ada (sampai pukul 09.00, Red),” kata Sri.
Penurunan pembelian itu ditengarai Sri karena harga cabai yang meroket. Cabai merah kemarin menyentuh harga Rp 40 ribu per kilogram. Sedangkan cabai keriting Rp 70 ribu per kilogram. Saking mahalnya, Sri hanya kulakan empat kilogram saja.
Minimnya pembeli tidak hanya terjadi pada cabai. Penjualan berasnya juga ikut turun selama beberapa minggu terakhir. Padahal, harga beras tidak naik. Satu kilogram beras bramo premium dibanderol Rp 10.800-Rp 11 ribu.
Sidak oleh tim gabungan kemarin juga mendapati fakta langkanya stok bawang putih katin. Dari sejumlah toko kelontong di Pasar Papar, hanya ada satu kios yang menjualnya. Stoknya hanya 10 kilogram. Harganya Rp 24 ribu per kilogram.
Sementara itu, meski ada lonjakan harga di beberapa harga kebutuhan pokok, Anggota Satgas Pangan Hary Mulyanto mengklaim harga kebutuhan pokok masih stabil pascakenaikan harga BBM. “Kami sudah lakukan pemantauan ke lima pasar (Pare, Grogol, Ngadiluwih, Mojo, dan Pare, Red) hasilnya, tidak ada kenaikan signifikan,” aku Hary.
Meski demikian, diakui Hary jika harga yang paling fluktuatif adalah cabai. Penyebab harganya yang meroket menurut Hary adalah faktor cuaca. Petani banyak yang panenannya tidak maksimal. Sehingga, stok berkurang.
Selebihnya, menurut Hari harga kebutuhan pokok di pasar masih stabil. Selain sidak kemarin, dia memastikan Satgas Pangan masih akan terus memantau perkembangan harga di pasar. Editor : Anwar Bahar Basalamah