Aksi dimulai sekitar pukul 10.00. Mahasiswa yang berkumpul di halaman kantor Kelurahan Semampir di Jl Mayor Bismo, melakukan long march ke kantor DPRD Kota Kediri yang berjarak sekitar 200 meter. Di sana, mahasiswa langsung membentangkan sejumlah poster dan spanduk bernada protes.
Di antaranya berbunyi, “BBM Bikin budrek masyarakat”, “Pertalite sulit, anak kos menjerit”, “BBM naik tinggi, pemerintah party”, “Orang pintar tarik subsidi, anak kos kurang gizi”, dan banyak poster protes lainnya.
Setelah sampai di depan gedung DPRD Kota Kediri, mahasiswa yang terdiri dari anggota Persatuan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), dan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Kediri Raya itu langsung melakukan orasi. Mereka menuntut agar harga BBM segera diturunkan.
Muhammad Eko Zuliyanto, salah satu orator mengatakan, kebijakan pemerintah menaikkan harga BBM menyengsarakan rakyat. “Bantuan yang disiapkan juga tidak bisa menjadi pengganti dari dampak kenaikan BBM,” sesalnya.
Lebih jauh Eko menjelaskan, bantuan yang disalurkan jangka pendek itu juga tak sebanding dengan penderitaan rakyat. Belum lagi, bantuan juga rawan dikorupsi seperti kasus sebelumnya.
Untuk diketahui, dalam aksi kemarin mahasiswa ditemui oleh Wakil Ketua DPRD Kota Kediri Katino dan Ashari, anggota DPRD dari fraksi Demokrat. “Silakan teman-teman datang kembali dua minggu. Pimpinan kami sedang berhalangan karena kondisi kesehatannya,” ujar Katino menjawab pertanyaan mahasiswa yang menanyakan keberadaan Ketua DPRD Kota Kediri Gus Sunoto Imam Mahmudi.
Merespons aspirasi mahasiswa, Ashari menyebut dirinya juga menyatakan penolakan kenaikan harga BBM. “Kami dari Fraksi Demokrat secara tegas menolak kenaikan BBM. Mulai dari daerah hingga pusat kompak menolak,” tandasnya sembari menyebut DPRD menerima aspirasi mahasiswa terkait kebijakan yang berpotensi menyengsarakan masyarakat itu.
Untuk diketahui, aksi demo di DPRD Kota Kediri kemarin diwarnai aksi saling dorong dengan anggota polisi. Hal itu terjadi saat mahasiswa ingin merangsek masuk ke gedung DPRD Kota Kediri. Di tengah-tengah orasi, mahasiswa juga melakukan aksi bakar ban sebagai simbol protes.
Sementara itu, ratusan mahasiswa yang baru saja melakukan demo di depan DPRD Kota Kediri langsung beralih ke kantor DPRD Kabupaten Kediri. Tiba sekitar pukul 14.00, mereka langsung menyuarakan penolakan kenaikan harga BBM. Alasannya pun sama, kenaikan harga bukanlah solusi yang pas.
“Pengalihan harga BBM ke BLT itu tidak solutif. Bantuan itu akan hanya digunakan untuk kepentingan pribadi,” teriak Muhammad Eko Zuliyanto. Hujan deras yang mengguyur Kediri kemarin siang tak menyurutkan aksi mereka. Orator bergiliran melakukan orasi di depan gedung wakil rakyat.
“Satu komando, satu tujuan!” teriak Eko menyemangati teman-temannya. Selain berorasi mahasiswa juga membacakan puisi bernada kritik. Selanjutnya mereka menyanyikan beberapa lagu perjuangan mahasiswa.
Selain ratusan mahasiswa yang melakukan aksi, seorang pria yang mengklaim mewakili ojek online juga ikut melakukan orasi. “Kami tidak kuat membeli bensin dan kami menolak kenaikan BBM,” tegas pria bermasker itu sembari menanyakan pendapat Ketua DPRD Kabupaten Kediri Dodi Purwanto akan kebijakan kenaikan harga BBM.
Di depan demonstran, Dodi juga mengaku tidak sepakat dengan kenaikan harga BBM. “Saya pribadi menolak kenaikan BBM,” tandas politisi asal Grogol ini. Didampingi ratusan polisi, Dodi mengaku siap meneruskan aspirasi mahasiswa ke DPR RI.
Untuk meyakinkan mahasiswa, kemarin Dodi juga menandatangani surat tuntutan mahasiswa. Setelah mendapat tanda tangan Dodi, mahasiswa sepakat membubarkan diri sekitar pukul 16.30. Editor : Anwar Bahar Basalamah