Ana, 30, salah satu pedagang Pasar Pamenang, mengatakan, kenaikan terjadi karena harga pakan ayam petelur tinggi. “Faktor naiknya karena harga pakan ayam yang tinggi,” ungkapnya.
Ana mengaku, menjual Rp 29 ribu per kg. Dari peternak harganya 27 ribu per kg. Ibu tiga anak ini menyediakan 50 kilogram telur untuk dijual di pasar. “Tiga hari baru habis,” ujarnya.
Mayoritas pembeli dari orang rumahan. Pembelian rata-rata 3 kg per konsumen. “Kadang seperempat. Kecuali seperti penjual nasi goreng, mereka beli 5 kg, kadang lebih,” imbuh warga Pare itu.
Miftakhul Jannah, 43, pedagang telur lainnya, mengatakan, menjual Rp 29 ribu per kg. Harga ini naik dari sebelumnya Rp 27 ribu. “Normalnya itu Rp 25 ribu,” katanya. Pedagang pracangan ini menambahkan, kebutuhan pokok harganya relatif stabil, kecuali harga telur memang naik.
Di Pasar Kandangan pun harga telur warna cangkang cokelat itu juga naik. Sebelum Idul Adha masih Rp 25 ribu–Rp 26 ribu per kg. Namun, dua pekan terakhir naik Rp 4 ribu. “Kenaikan harga terjadi secara bertahap,” urainya.
Pedagang lainnya, Wiwik Sriwidati, 50, menjual telur dengan harga Rp 29 ribu per kg. Menurutnya, harga sebelum naik masih Rp 27 ribu. “Drastis Mas. Rp 27 ribu itu ya mahal. Harga stabilnya Rp 25 ribu,” terangnya sambil membungkus tepung terigu.
Ibu berjilbab warna hitam itu menambahkan, harga kebutuhan pokok, seperti minyak goreng, bawang, dan cabai masih stabil. Hanya telur ayam ras yang mengalami kenaikan. Editor : Anwar Bahar Basalamah