Tentu saja, semua pihak bisa berdalih karena faktor pandemi. Namun, hal itu tak boleh menjadi alasan terus-menerus. Karena, pandemi belum diketahui kapan berakhirnya. Sedangkan soal pertumbuhan ekonomi, adalah hal yang krusial. Terutama menghadapi ancaman resesi ekonomi dunia seperti saat ini.
Selain faktor internal, seperti regulasi dan semacamnya, ada hal eksternal yang patut dicermati. Yaitu kerja sama antardaerah. Kolaborasi dan sinergitas antardaerah itu untuk mencegah munculnya tumpang tindih kebijakan yang bisa berdampak pada lambatnya pertumbuhan ekonomi.
“Aturan (antardaerah) bisa saling menghambat,” Ingat Profesor Candra Fajri.
Sebab itu, kerjasama antardaerah perlu disertakan dengan tanda tangan kesepakatan kerjasama. Kota Kediri bisa memulai start lebih awal dengan beragam potensi yang sudah dimiliki. Dengan kata lain, Candra ingin aturan antardaerah itu harus saling menunjang dan saling menopang.
“Saat ini, kerjasama menjadi isu penting,” ungkapnya.
Apalagi dunia semakin ketat. Lewat kolaborasi antardaerah, Kota Kediri yang luas wilayah 63,4 kilometer persegi dan penduduknya pada 2020 kurang dari 300 ribu jiwa itu bisa memulainya itu lebih awal.
Sementara itu, Badan Pusat Statistik (BPS) melihat bahwa pertumbuhan ekonomi Kota Kediri mulai menggeliat. Meskipun harus ditingkatkan lagi tahun-tahun mendatang. Pihak BPS mengacu pada peningkatan PDRB. Yang sebelumnya minus menjadi plus. Saat ini PDRB harga berlakunya mencapai Rp 141,47 triliun.
“Ini menggambarkan perekonomian di Kota Kediri sudah mulai menggeliat. Sudah mengalami pertumbuhan,” sebut Kepala BPS Kota Kediri Lilik Wibawati.
Di skala Jatim, Kota Kediri menjadi penyumbang terbesar kelima terhadap PDRB Jawa Timur. Turut berkontribusi sebesar 5,76 persen. Dengan besaran nominal Rp 2.454,50 triliun.
Pertumbuhan terjadi pada hampir semua sektor usaha. Seperti perdagangan besar-eceran, serta reparasi mobil dan sepeda motor yang tumbuh 9,81 persen.
Pertumbuhan lain dicatatakan sektor transportasi dan pergudangan (6,21 persen), pengadaan air, pengelolaan sampah, limbah dan daur ulang (6,07 persen), bidang Informasi dan Komunikasi (5,75 persen), serta jasa kesehatan dan kegiatan sosial (5,53 persen).
Lilik menilai pertumbuhan ekonomi terjadi lantaran kebijakan pemkot sangat tepat dalam pemulihan ekonomi saat pandemi Covid-19. “Saat ini kasus Covid-19 di Kota Kediri mengalami penurunan, sehingga kebijakan terkait PPKM mengalami pelonggaran. Kegiatan masyarakat yang dapat menghidupkan roda perekonomian berjalan dengan baik,” kata Lilik.
Untuk PDRB 2022, perempuan asal Tulungagung ini berharap, angkanya dapat lebih dari 2,5 persen. Karena sebelum pandemi Covid-19, PDRB di Kota Kediri bisa mencapai 5,25 hingga 5,47 persen. Selain itu, pandemi ini segera melandai agar aktivitas perekonomian meningkat secara konsisten. Editor : Anwar Bahar Basalamah