KOTA, JP Radar Kediri- Pengusaha tahu di Kampung Tahu kian menjerit. Bukan hanya karena produktivitas mereka yang kian merosot, hingga 50 persen, saja. Juga akibat harga kedelai yang tak kunjung turun sejak mengalami kenaikan di awal masa pandemi.
Situasi tersebut tentu menyulitkan pengusaha makanan rakyat yang berlokasi di Kelurahan Tinalan, Kecamatan Pesantren ini. Pendapatan mereka pun terus menurun.
Keluhan terbesar adalah soal harga bahan baku. Saat ini harga kedelai sudah ada yang mencapai Rp 12 ribu per kilogram. “Padahal harga normalnya Rp 8 ribu per kilogram,” keluh Sulasih, 65, seorang produsen tahu di kampung tersebut.
Mahalnya harga kedelai membuat perempuan ini harus pandai mengatur strategi agar bisa bertahan. Dia, yang sudah lebih dari 40 tahun berkecimpung dalam usaha tahu ini, harus mempertimbangkan soal ukuran dan harga.
Sebab, bila dia memperkecil ukuran, risikonya adalah pelanggan beralih ke tempat lain.Terlebih bila hal itu diikuti oleh naiknya harga tahu. Maka, solusinya, dia pun harus mengurangi komposisi kedelai sebagai bahan pembuat tahu.
“Kalau biasanya 10 kilogram kedelai sekarang jadi 9,5 kilogram saja,” ungkapnya.
Dengan cara itu ia tetap bisa memproduksi tahu dengan harga yang sama. Satu bijinya Rp 2.500. Sedangkan satu besek isi sepuluh biji dibandrol dengan harga Rp 23 ribu. Harga tersebut tidak pernah diubah meski produksinya harus dikurangi.
Sebenarnya, menurut pengakuannya, kondisi pasar tahu sempat hampir pulih beberapa waktu lalu. Namun, kini limbung lagi karena muncul serangan gelombang ketiga Covid-19. Pasar pun menjadi lesu lagi.
“Kalau dulu bisa produksi 40 kilogram sehari sekarang hanya 20 kilogram saja,” keluhnya.
Sementara itu, Wakil Ketua Paguyuban Kampung Tahu Tinalan Marjuni mengatakan akan membahas hal tersebut dengan semua pengusaha dan perajin tahu. “Kami akan coba tanyakan ke dinas (perdagangan dan industri),” katanya.
Sejauh ini mereka tidak mengetahui penyebab kenaikan harga kedelai tersebut. Namun, yang pasti, ketersediaan barang taka da masalah. Dia mengatakan pasokan kedelai di Kota Kediri selalu tersedia.
Terpisah, Kepala Disperdagin Tantowi Jauhari melalui Kabid Salim Darmawan mengatakan, kenaikan harga kedelai ini sudah terjadi sejak akhir 2020. “Saat itu pasokan global tidak seimbang,” katanya. Keadaan itu telah menghambat rantai pasokan dunia.
Sedangkan saat ini yang terjadi adalah penurunan jumlah produksi dari negara pengekspor seperti Brasil dan Amerika Serikat. Turunnya produksi tersebut diakibatkan juga karena faktor cuaca. “Ketidakpastian cuaca berdampak pada produksi kedelai,” lanjutnya.
Selain itu, terjadi pula inflasi bahan makanan di Amerika Serikat yang menjadi eksportir utama kedelai dunia. Keadaan itulah yang menyebabkan harga kedelai sulit untuk kembali normal menjadi Rp 8 ribu per kilogram.
“Kedelai lokal kita masih musiman. Belum bisa memenuhi kebutuhan stok nasional,” ujar Salim. Dia menyebutkan 80 persen kebutuhan kedelai dari impor.(rq/fud)
Editor : adi nugroho