Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Kehidupan Warga Bujel, Belasan Tahun Manfaatkan Air Sumur Keruh

adi nugroho • Senin, 14 Februari 2022 | 18:01 WIB
kehidupan-warga-bujel-belasan-tahun-manfaatkan-air-sumur-keruh
kehidupan-warga-bujel-belasan-tahun-manfaatkan-air-sumur-keruh


Jumlah penduduk di Lingkungan Wonosari, Kelurahan Bujel, Kecamatan Mojoroto semakin padat. Dari enam rukun tetangga (RT), lebih dari 200 kepala keluarga (KK) sudah menetap di sana. Semakin bertambahnya jumlah warga yang tinggal, lingkungan di RW 06 itu juga ikut berubah.


 


          Sebelum marak sumur pompa dari listrik, warga di Lingkungan Wonosari, Kelurahan Bujel, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri sudah terbiasa menggunakan sumur terbuka. Sejak puluhan tahun, sumur-sumur itu tidak pernah menimbulkan masalah seperti bau maupun keruh. Bahkan, sumur tua milik Hari, 59, masih berfungsi dengan baik dan bisa digunakan untuk minum.


          Perubahan air sumur warga itu terjadi sekitar 2009 lalu. Warga yang mulai beralih ke sumur bor mulai merasakan ada perubahan pada sumur mereka. “Saya juga pakai sumur pompa untuk mandi, air dari sumur pompa listrik itu keruh,” kata Hari yang sehari-harinya bekerja sebagai tukang pijat di lingkungannya.


          Keruhnya air sumur itu tidak hanya terjadi di sekitar rumahnya. Jarak sekitar 50 meter dari rumah Hari juga sama. Air sumur dari pompa listriknya keruh. Bahkan, warnanya lebih pekat ketika ditampung di bak mandi. Turbidity (kekeruhan) air di bak itu melebihi batas normal yakni 16 nephelometric turbidity units (NTU).


          Sulis, 41, warga setempat, mengaku, kualitas air di semua sumur yang berada di klompek rumahnya sama. “Dulu sebelum masak pakai air galon, nasi kami sering berubah warna jadi kuning,” akunya. Ibu-ibu yang saat itu masih berusia 30-an tahun akhirnya mengganti air galon untuk memasak.


          Peralihan dari air sumur ke galon itu terjadi secara massif pada 2010. Mereka beralih ke air galon karena menganggap air sumur pompa listrik keruh dan tidak layak untuk dikonsumsi. Karena harus berganti galon, warga harus mengeluarkan kocek dari saku. Sebab, air galon tidak gratis. Satu galon isi ulang dibanderol Rp 4 ribu. Sedangkan, air galon yang tidak isi ulang harganya kini Rp 18 ribu per liter.


          “Nggak kuat kalau beli yang asli, satu galon bisa habis dalam dua sehari,” beber perempuan berambut pendek itu. Hal senada juga disampaikan Kanti, 41, tetangganya, setelah berpindah ke galon mereka harus menambah uang pengeluaran untuk galon. Minimal sebulan bisa habis Rp 60 ribu. Cara itu terpaksa mereka lakukan agar bisa mendapat air minum yang layak.


Menurut mereka, warga yang sudah beralih ke air minum isi ulang itu adalah warga yang usianya sekitar 30 tahun hingga 40-an tahun. Sedangkan beberapa lansia masih tetap memilih memanfaatkan air sumur pompa yang keruh. (rq/baz)   


 

Editor : adi nugroho
#radar kediri #berita terkini #kediri #ekonomi #info kediri #kecamatan mojoroto #masyarakat #info terkini #berita kediri #kota kediri