KOTA, JP Radar Kediri - Pandemi Covid-19 membuat omzet para pelaku usaha mikro kecil menengah (UMKM) di Kota Kediri jeblok. Dari ribuan UMKM di Kota Kediri, sebanyak 30 persen di antaranya mengalami penurunan penjualan.
Data yang dihimpun Jawa Pos Radar Kediri menyebutkan, di Kota Kediri ada 5.435 UMKM. Dari jumlah tersebut, omzet sekitar 1.600 UMKM di antaranya turun drastis. “Kalau yang bangkrut belum ada. Belum ada laporan,” ujar Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Kota Kediri Bambang Priyambodo.
Berapa penurunan omzet dari ribuan UMKM itu? Bambang mengaku tidak bisa menyebutkan nilainya secara pasti. Dia hanya mengatakan jumlah penurunan tiap pelaku usaha bervariasi.
Menyikapi hal itu, Bambang menegaskan pemkot berusaha memberi solusi lewat Klinik UMKM. “Apa masalah yang dihadapi kami berusaha mencarikan solusi. Masalah penjualan yang turun, beberapa waktu lalu pemkot membantu promosi penjualan di medsos,” lanjutnya.
Untuk diketahui, penurunan omzet yang dialami pelaku UMKM di antaranya disiasati dengan penambahan modal. Hal tersebut terlihat dari meningkatnya peminat dana bergulir yang disiapkan dinas koperasi dan UMKM.
Bambang menjelaskan, total ada dana bergulir Rp 7 miliar yang bisa diakses para pelaku UMKM di Kota Kediri. Pinjaman dengan bunga hanya dua persen itu menurut Bambang sebelumnya tidak banyak diminati. “Dalam setahun terserap hanya di bawah Rp 1 miliar,” terangnya.
Kondisi berbeda terjadi tahun ini. Mulai April-Juli lalu, total dana yang terserap mencapai Rp 1,2 miliar. Sedikitnya ada sekitar 100 UMKM yang mengakses pinjaman tersebut.
Rupanya, pandemi Covid-19 membuat para pelaku UMKM memerlukan tambahan modal agar usaha mereka tetap berjalan. “Bunga sangat ringan. Batas pinjaman maksimal Rp 100 juta, minimal Rp 5 juta,” imbuhnya.
Terpisah, Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kota Kediri Mohammad Solikhin menjelaskan, para pengusaha yang tergabung dalam organisasinya juga terdampak pandemi Covid-19. Seperti halnya dinas koperasi dan UMKM, menurut Solikhin tidak ada pengusaha yang bangkrut akibat pandemi Covid-19.
Meski demikian, dari total 500 pengusaha yang menjadi anggota Kadin, sebanyak 50 persen di antaranya mengalami penurunan omzet. “Mayoritas (yang turun omzet, Red) sekitar 75 persennya itu UMKM,” beber Solikhin sembari menyebut kontraktor yang tergabung dalam Kadin juga ikut terdampak.
Para pengusaha yang omzetnya turun, kata Solikhin, mayoritas merupakan pengusaha yang menjual produknya secara offline. Khusus pengusaha yang menjual produk secara online, justru mengalami kenaikan omzet.
Perubahan perilaku konsumen selama pandemi Covid-19 menguntungkan mereka. Melihat hal itu, Kadin sudah berupaya menjembatani dengan menggelar virtual expo. Mereka juga menggelar berbagai kegiatan lain menyesuaikan dengan kondisi pandemi agar para pengusaha tidak gulung tikar.
Solikhin bersyukur, di Kota Kediri ada beberapa program yang membantu UMKM. Misalnya, fasilitasi produk UMKM untuk masuk pasar modern, dan beberapa program lain. “Itu sangat membantu pengusaha UMKM,” tegasnya. (ut)
UMKM Terdampak Pandemi
-Total ada 5.435 pelaku UMKM di Kota Kediri
-Omzet penjualan sekitar 1.600 pelaku UMKM jeblok akibat pandemi Covid-19
-Ratusan pengusaha dan pelaku UMKM yang menjadi anggota Kadin juga bernasib serupa
-Pemkot membantu UMKM dengan promosi penjualan melalui media sosial
-Untuk membantu permodalan, disiapkan dana bergulir Rp 7 miliar
Editor : adi nugroho