NGANJUK, JP Radar Nganjuk-Harga kedelai yang terus meroket membuat pengusaha tempe dan tahu di Nganjuk kelimpungan. Demi tetap bisa berproduksi secara rutin, mereka menyiasati dengan mengurangi ukuran tempe atau tahu buatannya.
Untuk diketahui, setelah sempat menyentuh harga Rp 10 ribu di awal tahun, harga kedelai sempat sedikit turun awal April. Tetapi, pada akhir April naik lagi secara bertahap. Hingga akhirnya harga kedelai impor tembus Rp 11 ribu per kilogram.
Terus naiknya harga kedelai membuat para pengusaha tempe dan tahu kebingungan. Seperti diakui oleh Nur Rohmi, 56, pembuat tempe asal Desa Tembarak, Kertosono. Dia mengaku harus melakukan penyesuaian agar bisa tetap berproduksi. “Kalau tidak (melakukan penyesuaian, Red) ya pasti rugi,” ujarnya.
Dengan cara itu, Rohmi bisa tetap berproduksi. Meski, dia juga harus mengurangi jumlah produksinya. Sebelum harga kedelai mahal dia bisa memproduksi 100 kilogram kedelai. Adapun sekarang tinggal separonya.
Selain mengurangi produksi, Rohmi juga mengurangi ukuran tempe buatannya. Perempuan asal Kediri itu mengaku harus memperkecil tempe buatannya agar tidak menaikkan harga jual.
Dengan cara tersebut, perempuan yang langsung menjual tempe buatannya di pasar Lengkong ini bersyukur pelanggannya tidak lari ke pedagang lain. “Harganya tetap. Yang ukuran panjang harganya Rp 4 ribu, yang lebih pendek Rp 2 ribu,” lanjutnya.
Perempuan yang sudah membuat tempe selama 25 tahun ini mengaku sudah sering merasakan fluktuasi harga kedelai. Hanya saja, kenaikan harga kedelai tahun ini merupakan yang tertinggi selama 25 tahun terakhir ini. Karenanya, kondisi tersebut cukup memukul para pembuat tahu dan tempe.
Dia pun berharap harga kedelai yang melambung ini bisa kembali normal lagi. Yakni, di kisaran Rp 7-8 ribu per kilogram. Dengan demikian, para pembuat tempe dan tahu tidak lagi direpotkan dengan tingginya bahan baku.
Apalagi, selama pandemi Covid-19 ini mereka juga masih harus berhadapan dengan pasar yang lesu. “Harapannya bisa segera turun harganya. Tidak mahal lagi. Kasihan kami yang di bawah,” tandasnya.
Editor : adi nugroho