KABUPATEN, JP Radar Kediri – Pemerintah kabupaten (pemkab) merencanakan langkah untuk mengatasi terus meroketnya harga cabai. Pemerintah akan melakukan operasi pasar. Rencananya operasi pasar itu akan berlangsung Jumat (12/3).
“Tren harga cabai mahal saat ini diperkirakan akan berlangsung sampai bulan Mei. Sehingga harus ada langkah-langkah yang diambil oleh Pemerintah Kabupaten Kediri,” kata Bupati Dhito Pramana saat melakukan inspeksi mendadak (sidak) di pasar Induk Pare kemarin (10/3).
Sidak Dhito tersebut juga terkait dengan kian mahalnya harga komoditas yang juga disebut lombok ini. Kemarin, harga di tingkat grosir sudah mencapai Rp 100 ribu per kilogram. Di tingkat eceran harganya jelas lebih mahal lagi.
Saat sidak kemarin Dhito didampingi oleh Plt Kepala Dinas Perdagangan (Disdag) Tutik Purwaningsih. Mereka mendatangi pedagang yang menyediakan cabai di lapaknya. Dhito terlihat berinteraksi dengan par apedagang. Menanyakan harga cabai.
Semua pedagang yang ditanya mengatakan bila harga cabai naik lagi. “Hari ini cabai rawit (harganya) sudah naik lagi. (Kenaikan) dari Rp 5 ribu sampai Rp 8 ribu. Dan (per kilogramnya) sudah tembus harga Rp 100 ribu,” ungkap Dhito mengulang jawaban dari pedagang.
Terkait faktor kenaikan, Dhito menyebut persoalan cuaca. “Memang tidak bisa dipungkiri faktor cuaca ekstrem terjadi di seluruh Indonesia. Sehingga harga cabai menjadi naik,” tandas pria berusia 28 tahun itu.
Dhito menyebut, kondisi ini tak hanya mempengaruhi ibu rumah tangga. Namun, yang terdampak juga pedagang makanan dan pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM). Karena itulah pemkab akan menggelar operasi pasar tersebut besok.
Dhito menegaskan bila Kabupaten Kediri merupakan sentra produksi cabai. Namun mereka terpengaruh dengan kondisi alam sehingga produksi menurun. Hal itu membuat pengiriman cabai ke luar kota juga mengalami penurunan. Dalam kondisi normal satu pedagang di Pasar Induk Pare bisa melakukan pengiriman sebanyak 9 kuintal per hari. Tujuannya adalah daerah Ibukota Jakarta dan sekitarnya. Namun, saat ini mereka hanya bisa mengirim 5 kuintal saja.
Sementara itu, Kadisdag Tutik mengatakan permintaan cabai di Kediri untuk luar kota mengalmai peningkatan. Karena daerah penghasil cabai lainnya juga mengalami gagal panen. Selain Kabupaten Kediri, daerah penghasil cabai yang lain di antaranya adalah Blitar, Banyuwangi, Tuban.
“Ini kami evaluasi terus karena permintaan dari luar Kabupaten Kediri ternyata luar biasa. Bahkan hari ini tidak terduga harga naik sampai Rp 8 ribu. Karena kemarin masih Rp 92 ribu per kilogram,” ujar Tutik.
Ia menjelaskan, akibat faktor cuaca itu penurunan produksi cabai mencapai 60 persen. Menurutnya, Disperindag Jatim juga melakukan sidak ke sentra petani cabai di Kecamatan Kepung dan Puncu. Tujuannya untuk memantau dan mengetahui apakah ada penimbunan. Ternyata dari hasil sidak memang stok sedang menurun. Sementara permintaan pasar mengalami peningkatan. (luk/fud)
Editor : adi nugroho