Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Diserbu Ulat dan Lodoh, Petani Panen Awal

adi nugroho • Senin, 8 Februari 2021 | 21:03 WIB
diserbu-ulat-dan-lodoh-petani-panen-awal
diserbu-ulat-dan-lodoh-petani-panen-awal

SUKOMORO, JP Radar Nganjuk-Petani bawang merah di Nganjuk tidak bisa meraup untung maksimal awal tahun ini. Mereka terpaksa memanen tanamannya lebih awal karena terserang hama ulat dan lodoh atau daun membusuk.   


Seperti diungkapkan Mukiran, 61. Pria asal Desa Putren, Sukomoro itu terpaksa memanen bawang merahnya di usia 1,5 bulan. Padahal, idealnya bawang merah baru dipanen di usia dua bulan. “Musim hujan kendalanya makin banyak,” ujar Mukiran tentang alasannya memanen dini brambang miliknya.


Lebih jauh pria tua itu mengungkapkan, di musim hujan ini tanaman bawang merah seolah diserbu hama. Di antaranya lodoh alias daun bawang merah yang membusuk akibat curah hujan tinggi dan hama. Selain daun layu dan mengering, penyakit ini membuat umbi bawang merah juga ikut membusuk.


Selain lodoh, para petani juga masih direpotkan dengan serangan hama ulat. Tak hanya daunnya yang layu dan habis dimakan ulat, umbi tidak bisa berkembang maksimal.


Dikatakan Mukiran, para petani nekat menanam bawang merah karena harga tahun ini relatif masih bagus. Untuk brambang kualitas kecil, saat ini seharga Rp 15 ribu hingga Rp 16 ribu per kilogram. Dengan harga tersebut, para petani masih bisa meraup untung yang lumayan. Meski harga sudah jauh lebih rendah dari awal bulan yang sempat tembus Rp 20 ribu per kilogramnya.


Selain momen harga bagus, menurut pria berkaus biru itu para petani menanam brambang sekarang untuk persiapan bibit. “Targetnya (brambang, Red) bisa bertahan hingga lima bulan ke depan (untuk penanaman bulan Juli, Red),” lanjut Mukiran.


Terpisah, Kabid Hortikultura Dinas Pertanian (Dispertan) Agus Sulistiyo mengatakan, kualitas panenan petani di musim hujan tahun ini memang tidak maksimal. Meski demikian, menurutnya belum ada petani yang bangkrut karena gagal panen akibat cuaca.


Hujan deras sejak Januari lalu, menurut Agus berpengaruh pada produktivitas bawang merah yang turun. Jika sebelum musim hujan bisa memanen hingga 12 ton per hektare, saat musim hujan hanya 7-8 ton per hektare. “Produktivitas turun karena petani memilih memanen tanamannya lebih awal,” terang Agus sembari menyebut mayoritas petani memanen bawang di usia 45-53 hari.


Keputusan tersebut menurut Agus mempengaruhi besar kecilnya umbi. Seperti halnya Mukiran, Agus menyebut mayoritas petani tidak menjual panenan brambangnya Februari ini. Melainkan, mereka menyimpan untuk bibit penanaman Juli nanti.


Dari sejumlah kecamatan sentra bawang merah, Agus menjelaskan hanya petani Sukomoro saja yang menjual panenannya ke pasar. Sisanya, para petani dari  


Wilangan, Bagor, dan Rejoso memilih menyimpan panenannya untuk bibit. “(Panenan, Red) persiapan bibit ini akan dialkukan hingga Maret nanti,” jelas Agus.

Editor : adi nugroho
#petani #ekonomi #kabar nganjuk #brambang #radar nganjuk #bawang merah