Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Desa-Desa Kediri yang Jadi Pusat Pekerja Migran Indonesia

adi nugroho • Jumat, 18 Desember 2020 | 23:56 WIB
desa-desa-kediri-yang-jadi-pusat-pekerja-migran-indonesia
desa-desa-kediri-yang-jadi-pusat-pekerja-migran-indonesia

Penghasilan besar masih jadi alasan warga di desa-desa ini memilih bekerja di luar negeri. Meskipun, tak semuanya bisa mendulang sukes.


 


Bergaji besar. Bisa menabung untuk membangun rumah. Bisa juga untuk mengumpulkan modal usaha di hari tua. Itulah gambaran enak menjadi pekerja migran Indonesia (PMI), istilah yang bisa digunakan untuk menyebut mereka yang mengais rezeki di negeri orang.


Karena alasan itulah banyak warga di desa-desa Kediri rela meninggalkan keluarganya demi bekerja di luar negeri. Seperti warga di Desa Jambean, Kecamatan Kras. Salah satu desa yang menjadi ‘lumbung’ PMI di wilayah Kabupaten Kediri.


“Faktor ekonomi yang utama. Bayangkan saja, beda gaji yang didapat antara bekerja di sini dan di luar negeri,” kata Kades Jambean Hari Amin.


Hari sangat paham dengan hal itu. Bukan saja karena banyak warganya yang jadi PMI. Dia juga punya balai latihan kerja (BLK) yang menyiapkan orang sebelum bekerja ke luar negeri.


Contohnya adalah gari penata laksana rumah tangga (PLRT)-sebutan baru untuk pekerjaan informal sebagai pembantu rumah tangga-di Hongkong atau Taiwan. Besarnya jauh di atas upah minimum kabupaten (UMK). Di Taiwan bayaran PLRT bisa mencapai Rp 9 juta per bulan. Sedangkan di Hongkong lebih murah sedikit, Rp 8 juta per bulan.


Belum lagi bila bekerja di sektor formal. Bayaran yang didapat tentu lebih besar lagi. “Di Taiwan pekerja pabrik mendapatkan gaji antara Rp 11 juta hingga Rp 12 juta,” sambungnya.


Di Jambean, 30 warga desa yang menjadi PMI. Awalnya, di era 90-an, hanya ada 5 sampai 10 orang saja. Tapi tiap tahun terus meningkat. Mereka adalah warga yang secara ekonomi memang tergolong masyarakat bawah. Jadi buruh tani atau ibu rumah tangga. Setelah bekerja di luar negeri mereka bisa membeli tanah atau sawah, membangun rumah, dan menanggung biaya hidup keluarga.


Tapi, ada juga yang jadi PMI karena masalah keluarga. “Biasanya cekcok antara pasutri. Akhirnya istrinya memutuskan menjadi pekerja migran,” imbuhnya.


Tak semua PMI pulang dengan  membawa uang. Sebagian ada yang terpuruk. Menurut Hari, seorang PMI juga dituntut pandai memanajemen keuangan saat bekerja di negeri orang. Kalau tidak bisa penghasilan besar akan sia-sia.


Desa lain yang juga jadi penyumbang PMI terbesar adalah Desa Deyeng, Kecamatan Ringinrejo. Gambaran bahwa desa ini dipenuhi orang yang pernah atau sedang kerja di luar negeri adalah deretan rumah megah yang mudah kita temui ketika memasuki desa.


Desa ini bahkan punya koperasi khusus PMI yang berdiri pada 2017. Sayang, koperasi itu mati suri saat ini.


“Ada 40 warga yang masuk koperasi khusus migran. Namun satu demi satu keluar dari grup,” ujar Petugas Desa Migran Produktif (Desmigratif) Desa Deyeng Hadi Yasmara.


Pada pertengahan 2018 desa ini diajukan sebagai desmigratif. Mantan PMI mendapat berbagai pelatihan. Mulai pembuatan pakan bebek fermentasi hingga pelatihan membuat roti. Semuanya difasilitasi disnaker.


Seperti yang terjadi di desa-desa lain, Hadi mengatakan PMI di desanya ada yang sukses dengan wirausaha. Namun, tak sedikit pula yang hanya sukses dengan membangun rumah megah saja. Karena itulah Hadi berniat menghidupkan lagi koperasi khusus PMI. Apalagi ada 30-an PMI yang pulang saat pandemi ini. Dia berharap mantan PMI yang sukses bisa menularkan ilmunya kepada yang baru pulang.


Salah seorang PMI yang baru pulang itu adalah Abdul Latif. Selama ini dia bekerja di Korea Selatan. Saat pulang kampung Maret lalu dia berencana hanya sebulan menetap. Sayang, karena pandemi dia gagal kembali ke tempat kerjanya. Kini dia bekerja serabutan sambil menunggu panggilan kerja.


“Inginnya ya kembali ke Korea. Namun mereka memutuskan kontrak dan melarang saya untuk kembali karen kondisi pandemi korona yang semakin parah,” aku Latif.


Di Desa Deyeng terdapat lebih dari 200 PMI yang masih berada di luar negeri. Mereka memilih tidak pulang ketika awal pandemi lalu. Kini mereka masih terus bekerja dan mengirimi keluarganya uang. (tar/jar/fud)


 

Editor : adi nugroho
#radarkediri