Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Hama dan Penyakit pada Kacang Tanah

adi nugroho • Kamis, 24 Oktober 2019 | 00:54 WIB
hama-dan-penyakit-pada-kacang-tanah
hama-dan-penyakit-pada-kacang-tanah


Arachis hypogaea L atau yang biasa kita kenal dengan nama kacang tanah merupakan salah satu tanaman polong-polongan yang dibudidayakan di Indonesia . Komoditi kacang-kacangan termasuk komoditi terpenting kedua setelah kedelai di Indonesia.


Tanaman yang berasal dari Amerika Serikat ini masuk ke Indonesia pada abad ke-17 berpusat di Pulau Jawa, Sumatera Utara, Sulawesi, dan sekarang sudah ditanam di berbagai daerah di Indonesia. 


Tanaman kacang tanah cocok ditanam pada ketinggian 50-500 meter di atas permukaan laut dan memiliki curah hujan sedang. Karena curah hujan tinggi akan menyebabkan sulit untuk melakukan penyerbukan, sehingga dapat memengaruhi pertumbuhan kacang tanah. 


Usahakan seluruh area tanaman kacang tanah terkena sinar matahari secara langsung. Pada awal pengolahan tanah tambahkan kapur pertanian untuk membantu pembuahan kacang.


Selain itu, tanamlah pada tanah gembur yang kaya akan kandungan unsur hara, kalsium (Ca), pospat (P), kalium (Ka) dan nitrogen (N) yang cukup.


Penyakit dalam budidaya kacang tanah memang perlu diwaspadai. Dalam pengendalian penyakit dalam budidaya kacang tanah, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan : Penyakit utama kacang tanah adalah karat daun (puccinica arachidis) dan penyakit bercak daun (phaeoisariopsis personata), pengendalian kedua penyakit ini dapat dilakukan dengan menggunakan fungisida berbahan aktif mancozeb atau metil tiofanat, dan tindakan preventif akan lebih baik, dengan waktu pengendalian ketika tanaman berumur 40, 50, 60 dan 70 HST


Pengendalian hama pada budidaya kacang tanah dapat dilakukan dengan pengendalian hama bisa dilakukan secara bercocok tanam (kultur teknis) dan pengendalian secara hayati (biologis).


Pengendalian dengan cara seperti ini bertujuan untuk menekan pencemaran lingkungan, pengendalian secara kultur bisa dilakukan dengan penggunaan mulsa, jerami, pengolahan tanah, pergiliran tanaman dan tanam serentak dalam satu hamparan.


Pengendalian secara hayati bisa dilakuakan dengan menggunakan bakteri yang dapat mengurangi populasi hama. Apabila kerusakan daun sudah lebih dari 15 persen, maka bisa diaplikasikan penyemprotan untuk pengendalian hama. Penyemprotan disarankan ketika pagi atau sore hari.


 


 


 


 

Editor : adi nugroho