NGANJUK – Panenan bawang merah di Nganjuk Agustus ini tak bisa maksimal. Penyebabnya, banyak tanaman yang terkena jamur blorok. Akibatnya, daun bawang berwarna kuning dan umbi berukuran lebih kecil. Untuk mencegah kerugian yang lebih besar, mereka terpaksa memanen bawang merahnya lebih awal.
Seperti dilakukan oleh Jani, 41. Petani bawang merah asal Desa Kerepkidul, Kecamatan Bagor ini memilih memanen bawang merahnya setelah dua bulan masa tanam. “Seharusnya baru dipanen setelah tiga bulan,” kata Jani. masa tanam
Dia terpaksa mempercepat pemanenan karena tanamannya terserang jamur blorok. Jamur jenis ini biasa menyerang tanaman bawang merah yang usianya di atas 50 hari.
Daun bawang merah yang semula hijau berubah kekuningan. Tidak hanya membuat warna daun berubah, jamur blorok juga membuat pertumbuhan umbi bawang tak maksimal. “Ukuran umbinya kecil-kecil,” lanjut Jani.
Kalau pun dibiarkan hingga usia tiga bulan, umbi bawang merah tetap tidak bisa membesar. Karena itu pula, Jani yang mulai menanam pada Juni lalu memutuskan untuk memanen bawang merah Minggu (5/8) lalu.
Karena ukuran umbi lebih kecil, otomotis bobot panenan bawang Jani juga menyusut. Dengan lahan seluas 30 ru, biasanya Jani bisa memanen sekitar tujuh kuintal. Tetapi, serangan jamur blorok membuat panenannya menyusut hampir separo. Yaitu, hanya sekitar empat kuintal saja.
Kerugian Jani serasa berlipat karena harga bawang merah saat ini sedang jatuh. Bawang merah kualitas sedang hanya laku dijual Rp 9 ribu per kilogram. Padahal, dua minggu lalu bisa menyentuh Rp 16 ribu per kilogram. “Biasanya saya kirim ke Pati (Jawa Tengah, Red),” terang Jani.
Terpisah, Ketua Asosiasi Petani Bawang Merah Jawa Timur Akad mengatakan, sebenarnya tahun ini serangan jamur sangat kecil. Menurutnya, ukuran buah yang kecil disebabkan oleh beberapa faktor. “Tidak hanya jamur,” ungkap Akad.
Menurut Akad, jarak tanam bawang merah juga bisa jadi pemicunya. Idealnya, jarak satu tanaman ke tanaman yang lain sekitar 15 sentimeter. Namun, rata-rata petani menanamnya dengan jarak sekitar 11 sentimeter atau terlalu rapat.
Selain itu, pemberian nutrisi yang kurang tepat ke bawang merah juga memengaruhi ukuran. “Nutrisi harus baik,” tandasnya.
Akad mengakui, harga bawang merah di tingkat petani masih anjlok. Pemicunya, Agustus ini merupakan musim panen raya. Tidak hanya di Kabupaten Nganjuk. Melainkan juga daerah lain di Jatim. Akibatnya, stok bawang merah melimpah.
Untuk menyiasatinya, Akad mengatakan, petani bisa menunda penjualan bawang merah. Karenanya, mereka harus punya gudang penyimpanan bawang merah. “Bisa dijual saat harga sudah stabil kembali,” sarannya.
Editor : adi nugroho