Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Wah, DKPP Dapati Plastik dalam Pencernaan Kambing

adi nugroho • Sabtu, 2 September 2017 | 23:02 WIB
wah-dkpp-dapati-plastik-dalam-pencernaan-kambing
wah-dkpp-dapati-plastik-dalam-pencernaan-kambing



KEDIRI KABUPATEN– Ada yang aneh di tempat pembuangan akhir (TPA) Desa Sekoto, Kecamatan Badas kemarin. Tidak hanya sampah yang menggunung, terlihat pula puluhan kambing berkeliaran. Digembalakan di sana, ternak itu juga memakan sampah rumah tangga di sekitar tumpukan limbah-limbah berbau busuk.


Pantauan Jawa Pos Radar Kediri, kambing-kambing tersebut memakan semua jenis sampah di TPA. Mulai dari makanan sisa seperti sayur hingga sampah yang sudah melebur dengan tanah. “Sudah setahun ini Mas, banyak warga sekitar menggembalakan sapinya di sini. Semuanya makan sampah,” terang Darmaji, 42, pekerja TPA Sekoto.


Walaupun demikian, menurut Darmaji, kondisi kambing-kambing di TPA gemuk-gemuk. Hanya saja, dia tidak mengetahui, apakah hewan ternak tersebut sehat. Bahkan layak dikonsumsi nanti. “Tambah hari tambah banyak Mas kambing-kambing yang digembalakan ke sini,” ujar pria asal Desa Bringin, Kecamatan Badas ini.


Terkait kesehatan kambing yang digembalakan di TPA Sekoto itu, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan (DKPP) Kabupaten Kediri Tutik Purwaningsih menyatakan, hewan-hewan di sana rentan terkena penyakit. Pasalnya, pasokan makanannya tidak terkontrol.


“Tidak semua makan sampah rumah tangga seperti sisa-sisa sayur di pasar saja. Kadang plastik juga dimakan,” ungkapnya.


Yang paling rentan, menurut Tutik, pencernaan kambing itu terganggu. Ini karena ternak makan plastik yang sulit diurai. Kecenderungannya, jika sampai pencernaannya bermasalah maka lama-lama kambing kurus dan meninggal.


Tutik mengaku, pernah mendatangi TPA itu. Dia melihat dan membedah kambing di tempat tersebut. “Kami menemukan di saluran pencernaannya terdapat plastik yang memang sulit dicerna,” ungkap kepala dinas berkacamata ini.


Selain penyakit pencernaan yang rentan dialami, Tutik menyebut,  kambing di TPA bisa terkena penyakit diare. Sebab makanan yang dikonsumsi tidak higienis. Belum lagi karena di TPA tersebut sampahnya kadang tidak terkontrol macam-macamnya. Dikhawatirkan yang membahayakan adalah kandungan logam yang dimakan kambing. Sebab nantinya bisa berbahaya jika dagingnya dikonsumsi manusia. “Walaupun beberapa ada yang gemuk-gemuk dan sehat,” paparnya.


Jika kambing yang digembalakan di TPA tersebut sehat karena sampah sudah menyatu dengan daging dan tidak menunjukkan tanda-tanda penyakitan, menurut Tutik, dagingnya tidak masalah dikonsumsi. Termasuk dijadikan hewan kurban. “Kalau memang ada yang sehat dan akan dikurbankan tidak masalah. Syarat hewan kurban kan memang harus sehat,” jelasnya.


Beda lagi ketika ada kambing sakit tetapi sama-sama dijual di pasar. Akan sulit membedakan yang digembala di kandang dengan di TPA. Makanya, Tutik berharap, konsumen tetap selektif. Harus memeriksa dahulu kambing yang hendak dibeli.


Jika terlihat kurus dan diare, Tutik menyarankan, sebaiknya tidak dibeli. “Sebenarnya para penggembala di TPA sudah kami peringatkan. Tapi tetap saja mereka gembalakan di sana karena mungkin praktisnya,” tegas kepala DKPP ini.


 

Editor : adi nugroho
#dkpp kediri