Wortel Impor Tidak Lagi Beredar di Nganjuk

adi nugroho • Dipublikasikan Rabu, 23 Agustus 2017 | 15:15 WIB
wortel-impor-tidak-lagi-beredar-di-nganjuk
wortel-impor-tidak-lagi-beredar-di-nganjuk


NGANJUK-Warga Nganjuk agaknya tidak perlu khawatir dengan peredaran wortel berbahaya dari benih selundupan. Pasalnya, wortel tersebut dipastikan tidak beredar di Nganjuk. Pun wortel impor yang secara fisik sama dengan wortel berbahaya tersebut.


          Pantauan koran ini di Pasar Wage kemarin, tidak ada pedagang yang menjual wortel impor tersebut. Padahal, beberapa bulan lalu wortel impor sempat membanjiri Nganjuk. “Tidak ada yang mau wortel impor. Harganya mahal,” kata Wiji, pedagang pracangan di Pasar Wage.


          Sebenarnya, kata Wiji, ada tawaran wortel impor. Tetapi, dia menolak. Sebab, harganya sangat mahal. Wortel dengan warna oranye sempurna dan tekstur cenderung berair itu di pasaran seharga Rp 40 ribu per kilogram.


          Jauh lebih mahal dari wortel petani lokal Malang dan Magetan yang kemarin seharga Rp 10 ribu per kilogram. “Semua pilih hasil petani lokal. Soalnya lebih murah,” terang Wiji.


          Lebih jauh perempuan berusia 57 tahun itu mengatakan, sekitar tiga bulan lalu wortel impor sempat masuk Pasar Wage. Sebab, harganya belum terlalu mahal. Saat itu, harga satu kilogram wortel impor saat itu sekitar Rp 12 ribu hingga Rp 15 ribu per kilogram.


          Di saat yang sama, harga wortel lokal Rp 8 ribu per kilogramnya. “Kalau selisihnya sedikit pedagang masih mau mengambil. Sekarang nggak ada yang mengambil. Terlalu mahal,” lanjut Wiji sembari menyebut dirinya belum mengetahui tentang kabar peredaran wortel berbahaya dari benih selundupan itu.


          Perempuan berjilbab itu mengatakan, secara fisik wortel impor memang berbeda dibanding wortel lokal. Dari warna, wortel impor oranye sempurna. Sedangkan wortel lokal oranye bercampur warna hijau di bagian pangkalnya.


          Tidak hanya itu, tekstur wortel impor juga berbeda dengan wortel lokal. Wortel impor cenderung berair dan empuk. Sedangkan wortel lokal keset. Karena itu pula, pembeli kebanyakan memilih wortel impor untuk dibuat jus.


          Adapun wortel lokal digunakan untuk sayur. “Kalau wortel impor disayur nggak enak. Cepat lembek. Biasanya pembeli mencari wortel impor untuk dijus. Warnanya bagus,” imbuhnya.


          Terpisah, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Nganjuk Henny Rochtanti mengatakan, pihaknya baru mengetahui peredaran wortel berbahaya dari benih selundupan setelah membaca koran. “Saya langsung memerintahkan pengawas pasar untuk mengecek di tiap pasar di Nganjuk,” kata Henny.


          Hasilnya, lanjut perempuan berjilbab itu, wortel dengan ciri-ciri produk dari Tiongkok itu tidak ditemukan di Nganjuk. “Tapi kami pantau terus. Kami juga koordinasi dengan Disperindag Provinsi,” terang Henny. 

Editor : adi nugroho