KEDIRI, JP Radar Kediri - Keberadaan Kopinang di Jalan Dr Wahidin Sudirohusodo Kelurahan Pakelan mendapat dukungan dan apresiasi banyak pihak. Namun, perlu upaya khusus agar bisa sustainable alias bisa bertahan dan berjaya sampai kapan pun.
Bagaimana caranya? “Konsistensi konsep slow morning market ini perlu dijaga. Jangan sampai berubah menjadi pasar yang padat dan bising. Karena karakternya Kopinang adalah memberi ruang ekonomi yang bergerak pelan serta mengutamakan kenyamanan dan interaksi sosial,” saran Dr Subagyo, MM, pengamat ekonomi Kediri.
Menurutnya, Kopinang memang berbeda dengan biasanya. Memiliki ciri khas tersendiri. Mulai dari lokasi, konsep, hingga pedagang yang berjualan.
Meskipun belum berdampak pada pendapatan asli daerah (PAD), kegiatan ini cukup memberi manfaat pada ekonomi lokal. Tak hanya itu, juga mampu membangun pondasi ekonomi kreatif yang berbasis komunitas.
“Inikan bukan inisiatif dari pemerintah melainkan dari komunitas. Tentu bagus apabila direplikasi di kelurahan lain dengan karakter yang berbeda-beda. Baik kampung kuliner, religi maupun seni bisa menjadikan Kota Kediri memiliki destinasi yang kecil tapi hidup. Sehingga tidak melulu bergantung pada event-event besar,” imbuhnya.
Tentu dengan adanya Kopinang di kawasan pecinan ini dinilai mampu mewujudkan visi dan misi Pemerintah Kota Kediri ‘Ngangeni’. Ada potensi yang harus terus digali dan dikembangkan karena mayoritas masyarakatnya juga keturunan Tionghoa. Termasuk suasana heritage yang muncul juga menjadi karakteristik tersendiri.
“Narasi Kopinang itu harus dikaitkan dengan identitas Kota Kediri yang ‘Ngangeni’ itu. Jadi bukan sekadar agenda komunitas tanpa ada perhatian khusus dari pemerintah,” tandas lelaki yang juga dosen prodi magister manajemen UNP Kediri ini.
Baca Juga: Sentra Kuliner Pasar Banjaran Kota Kediri Segera Beroperasi, Ini Target Waktunya
Lebih lanjut dia menjelaskan, pemerintah memiliki peran dalam hal mempromosikan dan memfasilitasi. Tanpa harus menghilangkan ruh dari komunitas tersebut.
Mengapa peran dari komunitas tidak boleh dihilangkan? Itu karena menjadi kekuatan utama di Kopinang. Mereka yang memiliki ide dan mampu menghidupkan suasana.
“Kopinang ini kan terbukti sukses. Makanya menjadi percontohan di lokasi lain. Tentu saja replikasi ini tidak harus sama. Tetap disesuaikan dengan karakter dan potensi yang ada di masing-masing kelurahan,” tandasnya sembari memberi contoh konsep tematik di Kelurahan Bandar Kidul, Kecamatan Mojoroto terkait kampung tenun ikat.
Terakhir, Subagyo berpesan bahwa kejayaan Kopinang ini bergantung pada peran stakeholder terkait. Dari segi pengelola yang harus terus berkoordinasi dengan masyarakat setempat agar tidak merasa terganggu.
Baca Juga: Kebut Persiapan Sentra Kuliner Pasar Banjaran Kota Kediri, Ini Aturan Mainnya
“Juga konsep yang dibawa. Terkait pedagang yang dibatasi sejumlah 15 orang saja dan dikurasi sesuai dengan tema yang ada,” pungkasnya.
Editor : rekian