“Jika harga ayam naik sampai Rp 40 ribu per kilogramnya, kayaknya saya bakal tutup,” keluhnya. Dia mengatakan, kenaikan harga ayam sejak sepekan terakhir telah memengaruhi keuntungannya. Sekarang, omzetnya juga jadi ikut turun.
“Sebelum ayam naik omzet saya bisa sampai Rp 600 ribu, sekarang paling mentok di Rp 200 ribu,” akunya.
Dia harus memangkas modal untuk pembelian ayam agar tetap produksi. Biasanya beli tiga kilogram ayam untuk operasional. Sekarang, hanya dua kilogram saja.
“Saya harus putar otak, ayamnya saya potong kecil-kecil,” lanjutnyanya.
Dia lalu membandingkan saat harga ayam masih normal. Ketika harga Rp 30 ribu per kilogram pedagang ayam geprek itu mampu menyajikan 80 kotak. Sekarang, hanya mampu menyajikan 35 kotak saja.
Saat ini dia kebingungan mengatur operasional harian lapaknya. Pengalaman serupa juga dirasakan penjual soto dan sate ayam. seperti Suwarni.
Dia juga mengalami kerugian akibat naiknya harga ayam. Dia juga harus mengurangi daging ayamnya.
“Saya dulu menggunakan tiga kilogram ayam untuk sate, 3 ekor ayam untuk soto. Sekarang, semuanya dikurangi,” tambahnya. Biasanya dia mampu mengantongi omzet Rp 400 ribu. Sekarang, menjadi lebih sedikit.
Lansia 63 tahun itu berharap agar harga daging ayam mengalami penurunan. Apalagi ayam adalah bahan baku utama untuk usahanya.
Untuk mendapatkan berita- berita terkini Jawa Pos Radar Kediri , silakan bergabung di saluran WhatsApp " Radar Kediri ". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.
Editor : rekian